<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KLINIK-PAJAK.COMPedangan Eceran &#187;</title>
	<atom:link href="http://www.klinik-pajak.com/tag/pedangan-eceran/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.klinik-pajak.com</link>
	<description>Get Indonesian Tax Update First</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 07:01:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>PPN Pedagang Eceran</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/ppn-pedagang-eceran.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/ppn-pedagang-eceran.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Oct 2008 13:39:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPN]]></category>
		<category><![CDATA[Pedangan Eceran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=1305</guid>
		<description><![CDATA[Disadari bahwa melaksanakan kewajiban Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan benar bagi pedagang kecil atau istilahnya dikenal dengan Pedangan Eceran merupakan hal yang sulit dilakukan. Untuk mempermudah  Pedangan Eceran dalam melaksanakan kewajiban Pajak Pertambahan Nilai terdapat dua pilihan yaitu: Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan dimana penghasilan netonya untuk PPh menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Disadari bahwa melaksanakan kewajiban Pajak  Pertambahan Nilai (PPN) dengan benar bagi pedagang kecil atau istilahnya dikenal  dengan Pedangan Eceran merupakan hal yang sulit dilakukan. Untuk mempermudah   Pedangan Eceran dalam melaksanakan kewajiban Pajak Pertambahan Nilai terdapat  dua pilihan yaitu:</p>
<ol>
<li>Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan dimana  	penghasilan netonya untuk PPh menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan  	Neto, atau</li>
<li>Menggunakan Mekanisme Umum</li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Pedangan Eceran Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak  Masukan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketentuan yang mengatur adalah Keputusan Menteri  Keuangan Republik Indonesia Nomor 252/KMK.03/2002 Jo. KMK Nomor 553/KMK.04/2000  tentang Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena  Pajak Memilih dikenakan Pajak dengan Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan  Neto, serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor  01/PMK.03/2007.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Defenisi Pedangan Eceran</strong></p>
<p>Pedagang Eceran yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah  Pengusaha Orang Pribadi dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto  selama 1 (satu) tahun buku tidak lebih dari Rp. 1.800.000.000,00 (satu miliar  delapan ratus juta rupiah) yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaan utamanya  adalah melakukan usaha perdagangan dengan cara  sebagai berikut:</p>
<p>a. Menyerahkan Barang Kena Pajak melalui suatu tempat penjualan eceran  seperti toko, <br />
 kios, atau dengan cara penjualan yang dilakukan langsung kepada  konsumen akhir, <br />
 atau dengan cara penjualan yang dilakukan dari rumah ke rumah;</p>
<p>b. Menyediakan Barang Kena Pajak yang diserahkan di tempat penjualan  secara eceran <br />
 tersebut; dan</p>
<p>c. Melakukan transaksi jual beli secara spontan tanpa didahului dengan  penawaran <br />
 tertulis, pemesanan tertulis, kontrak atau lelang dan pada umumnya  bersifat tunai, <br />
 dan pembeli pada umumnya datang ke tempat penjualan tersebut  langsung membawa <br />
 Barang Kena Pajak yang dibelinya.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan</strong></p>
<p>a. Pajak Keluaran dihitung dengan cara mengalikan nilai peredaran bruto dan  atau penerimaan bruto <br />
 yang terutang Pajak Pertambahan Nilai pada Masa Pajak yang bersangkutan  dengan tarif Pajak <br />
 Pertambahan Nilai.</p>
<p>b. Nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto sebagaimana dimaksud dalam  huruf a, tidak termasuk <br />
 Pajak Pertambahan Nilai.</p>
<p>c. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan ditetapkan sebagai berikut:</p>
<p>1. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pedagang Eceran dengan Norma <br />
 Penghitungan Penghasilan Neto, sebesar 80% (delapan puluh persen)  dikalikan <br />
 dengan Pajak Keluaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a;</p>
<p>2. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak yang dilakukan Pengusaha Kena  Pajak selain <br />
 Pedagang Eceran, sebesar 70% (tujuh puluh persen) dikalikan dengan  Pajak Keluaran <br />
 sebagaimana dimaksud dalam huruf a;</p>
<p>3. Untuk penyerahan Jasa Kena Pajak, sebesar 40% (empat puluh persen)  dikalikan <br />
 dengan Pajak Keluaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a.&#8221;</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Kewajiban Membuat Pencatatan</strong></p>
<p>1. Untuk keperluan pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud di atas, Pengusaha  Kena Pajak <br />
 wajib membuat catatan nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto yang  menjadi Dasar <br />
 Pengenaan Pajak.</p>
<p>2. Dalam hal Pengusaha Kena Pajak di samping melakukan penyerahan yang terutang  pajak juga <br />
 melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, catatan sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1) <br />
 wajib dipisah antara penyerahan yang terutang pajak dan penyerahan yang  tidak terutang pajak.</p>
<p><strong>Penghentian menggunakan pedoman pengkreditan Pajak  Masukan</strong></p>
<p>Apabila dalam suatu Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak tidak lagi memenuhi syarat  untuk dikenakan Pajak <br />
 Penghasilan dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, maka mulai  permulaan tahun buku <br />
 berikutnya Pengusaha Kena Pajak tidak lagi diperkenankan menggunakan pedoman  pengkreditan Pajak <br />
 Masukan.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Kewajiban Memberitahukan ke Kantor Pajak sebelum menggunakan pedoman  pengkreditan Pajak  Masukan</strong></p>
<p>Sebelum menggunakan pedoman pengkreditan Pajak Masukan Pengusaha Kena Pajak   wajib memberitahukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak di tempat Pengusaha  Kena Pajak dikukuhkan dengan cara membubuhkan catatan pada Surat Pemberitahuan  Masa Pajak Pertambahan Nilai yang bersangkutan tentang penggunaan Pedoman  Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan.</p>
<p><strong>Pedangan Eceran Menggunakan Mekanisme Umum</strong></p>
<p>Ketentuan yang mengatur adalah Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia   Nomor 402/KMK.03/2002 Jo. Nomor 253/KMK.03/2002, Keputusan Dirjen Pajak Nomor   KEP &#8211; 102/PJ.52/2003 jo. KEP &#8211; 342/PJ./2002</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Pajak Keluaran</strong></p>
<p>Atas penyerahan barang dagangan oleh Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan  Norma Penghitungan <br />
 Penghasilan Neto, terutang Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10% (sepuluh persen)  dari harga jual.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Pajak Masukan</strong></p>
<p>Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran adalah:<br />
 a.    Pajak Masukan atas perolehan Barang selain Barang dagangan;<br />
 b.    Pajak Masukan atas perolehan Jasa Kena Pajak.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Kewajiban Membuat Faktur Pajak</strong></p>
<p>Pedagang Eceran Selain Yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto  yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, wajib membuat Faktur Pajak,  memungut dan menyetor pajak yang terutang,  serta melaporkannya pada Surat  Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Faktur Pajak Sederhana</strong></p>
<ol>
<li>Slip Cash Register atau Segi Cash Register yang dibuat oleh Pedagang  	Eceran Selain Yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dapat  	diperlakukan sebagai Faktur Pajak Sederhana.</li>
<li>Apabila dalam harga jual Barang Kena Pajak sudah termasuk Pajak  	Pertambahan Nilai, Slip Cash Register atau Segi Cash Register sebagaimana  	dimaksud dalam ayat (1) wajib diberi keterangan   &#8220;untuk Barang Kena Pajak  	harga sudah termasuk PPN&#8221;.</li>
<li>Pencantuman alamat Pedagang Eceran pada Slip Cash Register atau Segi  	Cash Register sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat disingkat.</li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Contoh Penghitungan PPN Pedangan Eceran</strong></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p style="text-align: justify;">Toko Glory menjual pakaian untuk konsumen di  Blok M Square dengan omzet penjualan setahun Rp 800 juta. Dalam menghitung  penghasilan neto untuk Pajak Penghasilan Joshua pemilik Toko Glory menggunakan  Norma Penghitungan Penghasilan Neto.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama bulan September 2008 omzet penjualannya  adalah Rp 150 juta dan membeli bahan dagangannya sebesar Rp 80 juta.  Penghitungan PPN atas Toko Glory untuk bulan September 2008 adalah sebagai  berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menggunakan Pedoman Penghitungan  Pengkreditan Pajak Masukan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Peredaran Usaha Usaha              Rp  150.000.000</p>
<p style="text-align: justify;">Pajak Keluaran 10% x Rp  150.000.000                            = Rp 15.000.000</p>
<p style="text-align: justify;">Pajak Masukan 80% x Rp  15.000.000                              =  Rp 12.000.000</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PPN Kurang  Bayar                                                                =  Rp    3.000.000</strong></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika Menggunakan Mekanisme Umum</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Peredaran Usaha Usaha              Rp  150.000.000</p>
<p style="text-align: justify;">Pajak Keluaran 10% x Rp  150.000.000                            = Rp 15.000.000</p>
<p style="text-align: justify;">Pembelian   Rp 80.000.000</p>
<p style="text-align: justify;">Pajak Masukan 10% x Rp  80.000.000                              =  Rp 8.000.000</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PPN Kurang  Bayar                                                                =  Rp  7.000.000</strong></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/ppn-pedagang-eceran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
