<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KLINIK-PAJAK.COMPPh Final &#187;</title>
	<atom:link href="http://www.klinik-pajak.com/category/pph-final/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.klinik-pajak.com</link>
	<description>Get Indonesian Tax Update First</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 07:01:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Juklak PPh Final Pengalihan Tanah/Bangunan</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/juklak-pph-final-pengalihan-tanahbangunan.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/juklak-pph-final-pengalihan-tanahbangunan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 06:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[Penjualan Tanah dan Bangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2737</guid>
		<description><![CDATA[Sehubungan dengan atas Pajak Penghasilan yang bersifat final (PPh Final) atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan (WP real estat) masih menimbulkan pertanyaan maka Dirjen Pajak telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor  SE &#8211; 80/PJ/2009 tentang Pelaksanaan Pajak Penghasilan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sehubungan dengan atas Pajak Penghasilan yang bersifat final (PPh Final) atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan (WP real estat) masih menimbulkan pertanyaan maka Dirjen Pajak telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor  SE &#8211; 80/PJ/2009 tentang Pelaksanaan Pajak Penghasilan Yang Bersifat Final Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Usaha Pokoknya Melakukan Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan. Hal-hal yang diatur dalam SE &#8211; 80/PJ/2009 adalah sebagai beikut:</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Pembayaran PPh Final atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan oleh WP real estat dilakukan :
<ol style="list-style-type: lower-alpha;">
<li>paling lama 15 bulan berikutnya setelah bulan diterimanya pembayaran, dalam hal pembayaran atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dilakukan dengan cara angsuran;</li>
<li>sebelum akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan ditandatangani oleh pejabat yang berwenang, dalam hal jumlah seluruh pembayaran sebagaimana dimaksud pada huruf a kurang dari jumlah bruto nilai pengalihan hak.</li>
</ol>
</li>
<li style="text-align: justify;">Nilai pengalihan hak sebagaimana dimaksud dalam butir 1 huruf b adalah nilai yang tertinggi antara nilai berdasarkan Akta Pengalihan Hak dengan Nilai Jual Objek Pajak tanah dan/atau bangunan yang bersangkutan pada saat ditandatangani akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan oleh pejabat yang berwenang.</li>
<li style="text-align: justify;">Dalam hal pembayaran atau angsuran atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dilakukan sebelum 1 Januari 2009 dan penjualan atas pengalihan tersebut belum diakui sebagai penghasilan Wajib Pajak yang melakukan pengalihan tersebut sampai dengan 31 Desember 2008 maka PPh Final atas pembayaran atau angsuran tersebut harus dibayar sebelum akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan ditandatangani oleh pejabat yang berwenang.</li>
<li style="text-align: justify;">Dalam hal pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dilakukan di cabang maka pembayaran PPh dan penyampaian SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan tersebut dapat dilakukan oleh cabang. Namun seluruh pembayaran PPh atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang dilakukan dicabang harus dikonsolidasi oleh pusat dan dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh.</li>
<li style="text-align: justify;">Dalam hal terdapat dua atau lebih Wajib Pajak bekerja sama membentuk Kerja Sama Operasi (KSO)/Joint Operation (JO) melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan maka PPh Final atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dibayar oleh masing-masing anggota KSO sesuai dengan bagian penghasilan yang diterima masing-masing anggota KSO.</li>
<li style="text-align: justify;">Dalam hal PPh Final sebagaimana dimaksud dalam butir 5 telah dibayar dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atas nama KSO atau salah satu anggota KSO maka SSP tersebut dipindahbukukan ke masing-masing anggota KSO sesuai dengan bagian penghasilan yang diterima masing-masing anggota KSO.</li>
<li style="text-align: justify;">Atas pelaksanaan aturan peralihan Pasal II Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008 sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-28/PJ/2009 tentang Pelaksanaan Ketentuan Peralihan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan ditegaskan hal-hal sebagai berikut :
<ol style="list-style-type: lower-alpha;">
<li>Surat Keterangan Bebas (SKB) pembayaran Pajak Penghasilan yang bersifat final dapat diterbitkan kepada Wajib Pajak Badan yang usaha pokoknya melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan (WP Badan real estat) apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut :<br />
<table style="text-align: left; width: 96%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align: top; width: 30px;"><span style="font-size: small;">1)</span></td>
<td style="vertical-align: top; text-align: justify; width: 922px;"><span style="font-size: small;">pengalihan hak (penjualan) atas tanah dan/atau bangunan dilakukan sebelum tanggal 1 Januari 2009;</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="vertical-align: top; width: 30px;"><span style="font-size: small;">2)</span></td>
<td style="vertical-align: top; text-align: justify; width: 922px;"><span style="font-size: small;">penghasilan atas pengalihan hak tersebut telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang bersangkutan dan Pajak Penghasilan atas penghasilan tersebut telah dilunasi;</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="vertical-align: top; width: 30px;"><span style="font-size: small;">3)</span></td>
<td style="vertical-align: top; text-align: justify; width: 922px;"><span style="font-size: small;">permohonan diajukan oleh WP Badan real estat yang melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan disertai lampiran berupa daftar tanah dan/atau bangunan sesuai format yang ditetapkan yang diisi dengan lengkap meliputi nama dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pembeli tanah dan/atau bangunan.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>S<span style="font-size: small;">ehubungan dengan nama dan NPWP pembeli yang tercantum dalam SKB sebagaimana dimaksud pada huruf a, ditegaskan bahwa : </span><br />
<table style="text-align: left; width: 96%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align: top; width: 30px;"><span style="font-size: small;">1)</span></td>
<td style="vertical-align: top; text-align: justify; width: 922px;"><span style="font-size: small;">NPWP pembeli wajib dicantumkan dalam permohonan SKB, kecuali berdasarkan ketentuan perpajakan pembeli tersebut tidak wajib memiliki NPWP;</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="vertical-align: top; width: 30px;"><span style="font-size: small;">2)</span></td>
<td style="vertical-align: top; text-align: justify; width: 922px;"><span style="font-size: small;">nama pembeli yang tercantum dalam permohonan SKB adalah pembeli yang tercantum dalam Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB);</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="vertical-align: top; width: 30px;"><span style="font-size: small;">3)</span></td>
<td style="vertical-align: top; text-align: justify; width: 922px;"><span style="font-size: small;">dalam hal terjadi perubahan PPJB sehingga WP Badan real estat menerima atau memperoleh penghasilan dari perubahan PPJB tersebut, maka SKB hanya dapat diterbitkan apabila WP Badan real estat dapat membuktikan bahwa penghasilan dari perubahan PPJB tersebut telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang bersangkutan dan Pajak Penghasilan atas penghasilan tersebut telah dilunasi.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/juklak-pph-final-pengalihan-tanahbangunan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketentuan Baru Peralihan PPh Jasa Konstruksi</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/ketentuan-baru-peralihan-pph-jasa-konstruksi.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/ketentuan-baru-peralihan-pph-jasa-konstruksi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 16:07:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[Jasa Konstruksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2633</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah telah mengeluarkan aturan terbaru yang mengatur ketentuan peralihan PPh Jasa Konstruksi dari tahun 2008 ke tahun 2009 yang sebelumnya diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2008, yaitu dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi. Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemerintah telah mengeluarkan aturan terbaru yang mengatur ketentuan peralihan PPh Jasa Konstruksi dari tahun 2008 ke tahun 2009 yang sebelumnya diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2008, yaitu dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi. Berikut akan dibahas hal-hal yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Atas Kontrak Sebelum 1 Agustus 2008 dan Pembayaran sampai dengan 31 Desember 2008</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terhadap kontrak yang ditandatangani sebelum tanggal 1 Agustus 2008, untuk pembayaran kontrak atau bagian dari kontrak yang dilakukan sampai dengan tanggal 31 Desember 2008, pengenaan Pajak Penghasilan adalah sebagai berikut:</p>
<p>Atas penghasilan dari usaha di bidang jasa konstruksi ditentukan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Dikenakan PPh Pasal 23 dalam hal pengguna jasa adalah badan Pemerintah, Subjek Pajak badan dalam negeri, bentuk usaha tetap, atau orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak sebagai pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23 tersebut pada saat pembayaran uang muka dan termin;</li>
<li>dikenakan pajak berdasarkan ketentuan Pasal 25 dalam hal pemberi penghasilan adalah pengguna jasa lainnya selain sebagaimana dimaksud di atas.</li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li>dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final bagi Wajib Pajak yang memenuhi kualifikasi sebagai usaha kecil berdasarkan sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang, serta yang mempunyai nilai pengadaan sampai dengan Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), dengan ketentuan:
<ul>
<li>dikenakan pemotongan pajak yang bersifat final oleh pengguna jasa, dalam hal pengguna jasa adalah badan Pemerintah, Subjek Pajak badan dalam negeri, bentuk usaha tetap, atau orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak sebagai pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23 pada saat pembayaran uang muka dan termin;</li>
<li>dikenakan pajak yang bersifat final, dengan cara menyetor sendiri Pajak Penghasilan yang terutang pada saat menerima pembayaran uang muka dan termin, dalam hal pemberi penghasilan adalah pengguna jasa lainnya selain yang dimaksud di atas.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Tarif PPh Final:</p>
<blockquote>
<ul style="text-align: justify;">
<li>4% (empat persen) dari jumlah bruto, yang diterima Wajib Pajak penyedia jasa perencanaan konstruksi; </li>
<li>2% (dua persen) dari jumlah bruto, yang diterima Wajib Pajak penyedia jasa pelaksanaan konstruksi; atau</li>
<li>4% (empat persen) dari jumlah bruto, yang diterima Wajib Pajak penyediajasa pengawasan konstruksi.</li>
</ul>
<p>
</p></blockquote>
<p><strong>Atas Kontrak Sebelum 1 Agustus 2008 dan Pembayaran setelah 31 Desember 2008</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terhadap kontrak yang ditandatangani sebelum tanggal 1 Agustus 2008, untuk pembayaran kontrak atau bagian dari kontrak dilakukan setelah tanggal 31 Desember 2008 berlaku ketentuan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>dalam hal berita acara serah terima penyelesaian pekerjaan ditandatangani bleh Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa sampai dengan tanggal 31 Desember 2008, pengenaan Pajak Penghasilan dilakukan berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud di atas.</li>
<li>dalam hal berita acara serah terima penyelesaian pekerjaan ditandatangani oleh Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa sejak tanggal 1 Januari 2009 atau penyelesaian pekerjaan tidak menggunakan berita acara serah terima penyelesaian pekerjaan, pengenaan Pajak Penghasilan dilakukan berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi.</li>
</ul>
<ul>
</ul>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Atas Kontrak Setalah 1 Agustus 2008</strong></p>
<p>Terhadap kontrak yang ditandatangani sejak tanggal 1 Agustus 2008, pengenaan Pajak Penghasilan dilakukan berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Kompensasi Kerugian</strong></p>
<p>Kerugian dari usaha J asa Konstruksi yang masih tersisa sampai dengan Tahun Pajak 2008 hanya dapat dikompensasikan sampai dengan Tahun Pajak 2008.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/ketentuan-baru-peralihan-pph-jasa-konstruksi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembebasan PPh Pengalihan Hak Atas Tanah/Bangunan</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/pembebasan-pph-pengalihan-hak-atas-tanahbangunan.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/pembebasan-pph-pengalihan-hak-atas-tanahbangunan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 02:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[Penjualan Tanah dan Bangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2571</guid>
		<description><![CDATA[Sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008 bahwa tidak semua pengalihan/penjualan tanah dan/atau bangunan terutang PPh Final. Untuk mengatur tata cara pemberian pengecualian PPh Final tersebut maka Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 30/PJ/2009 tentang Tata Cara Pernberian Pengecualian dari Kewajiban Pembayaran atau Pemugutan Pajak Penghasilan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008 bahwa tidak semua pengalihan/penjualan tanah dan/atau bangunan terutang PPh Final. Untuk mengatur tata cara pemberian pengecualian PPh Final tersebut maka Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 30/PJ/2009 tentang Tata Cara Pernberian Pengecualian dari Kewajiban Pembayaran atau Pemugutan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>PPh Final pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Besarnya Pajak Penghasilan  adalah sebesar 5% (lima persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, kecuali atas pengalihan hak atas Rumah Sedehana dan Rumah Susun Sederhana yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dikenai Pajak Penghasilan sebesar 1% (satu persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pengecualian </strong><strong>PPh Final pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dikecualikan dari kewajiban pembayaran atau pemungutan Pajak Penghasilan atas penghasilan hak atas tanah dan/atau bangunan adalah:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>orang pribadi yang mempunyai penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak yang melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan jumlah bruto pengalihan kurang dari Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah;</li>
<li>orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan kepada Pemerintah guna pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan persyaratan khusus;</li>
<li>orang pribadi yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan cara hibah kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang hibah tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;</li>
<li>badan yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan cara hibah kepada badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang hibah tersebut tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan; atau</li>
<li>pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena warisan.</li>
<li>pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan yang tidak termasuk subjek pajak.</li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tata Cara Pemberian Pengecualian </strong></p>
<ul>
<li><strong>Melalui Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Pengecualian dari kewajiban pembayaran atau pemungutan Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan  sebagaimana dimaksud dalam angka 1,  angka 3,  angka 4, dan angka 5 di atas, diberikan dengan penerbitan Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan.</p>
<ul>
<li><strong>Diberikan Secara Langsung<br />
 </strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Pengecualian dari kewajiban pembayaran atau pemungutan Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam angka 2 dan angka 6 di atas, diberikan secara langsung tanpa penerbitan Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan.</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tata Permohonan Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal permohonan untuk memperoleh Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan diajukan oleh:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam angka 1 di atas, permohonan harus dilampiri dengan:
<ol>
<li>Surat Pernyataan Berpenghasilan di Bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak dan Jumlah Bruto Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan kurang dari Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) dengan format sesuai dengan Lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini;</li>
<li>fotokopi Kartu Keluarga; dan</li>
<li>fotokopi Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan tahun yang bersangkutan.</li>
</ol>
</li>
<li>orang pribadi atau badan sebagaimana dimaksud dalam angka 3 dan angka 4 di atas , permohonan harus dilampiri Surat Pernyataan Hibah dengan format sesuai Lampiran III yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 30/PJ/2009;</li>
<li>ahli waris , permohonan harus dilampiri dengan Surat Pernyataan Pembagian Waris dengan format sesuai dengan lampiran IV yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 30/PJ/2009.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/pembebasan-pph-pengalihan-hak-atas-tanahbangunan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aturan Peralihan PPh Pengalihan Hak Atas Tanah/Bangunan</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/aturan-peralihan-pph-pengalihan-hak-atas-tanahbangunan.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/aturan-peralihan-pph-pengalihan-hak-atas-tanahbangunan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 15:23:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[Penjualan Tanah dan Bangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2561</guid>
		<description><![CDATA[Sehubungan dengan Pajak Penghasilan atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2008 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 Tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan yang dikeluarkan pada tanggal 4 November 2008 dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sehubungan dengan <a href="http://www.klinik-pajak.com/pph-pengalihan-hak-atas-tanah-danatau-bangunan.html">Pajak Penghasilan atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2008 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 Tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan yang dikeluarkan pada tanggal 4 November 2008 dan peraturan pelaksanaannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 243/PMK.03/2008 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 635/KMK.04/1994 Tentang Pelaksanaan Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan tanggal 31 Desember 2008</a>, <em><strong>dimana terdapat perubahan perlakuan PPh untuk Wajib Pajak badan, termasuk koperasi, yang usaha pokoknya melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang</strong></em> <em><strong>sebelum 1 Januari 2009 tidak terutang PPh atas Penghasilan dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan, namun sejak 1 Januari 2009 terutang PPh Final 5%</strong></em><strong>,</strong> maka untuk pengaturan masa transisi dari ketentuan lama (2008) kepada ketentuan baru (2009) Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan PER-28/PJ/2009 tentang <span><span>Pelaksanaan Ketentuan Peralihan</span></span><span><span> </span></span><span><span>Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008</span></span><span> <span>Tentang Perubahan Ketiga Atas</span><span> </span><span>Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994</span> <span>Tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan</span> <span>Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><span><span><strong>Penghasilan Telah Dilaporkan pada SPT Tahunan PPh Badan tahun 2008</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;">Wajib Pajak badan, termasuk koperasi, yang usaha pokoknya melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, yang:</p>
<ol>
<li>melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan sebelum tanggal 1 Januari 2009 dan atas pengalihan hak tersebut belum dibuatkan akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan, atau risalah lelang oleh pejabat yang berwenang; dan</li>
<li>penghasilan atas pengalihan hak sebagaimana dimaksud pada angka 1 telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang bersangkutan dan Pajak Penghasilan atas penghasilan tersebut telah dilunasi, </li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">pengenaan pajaknya dihitung berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 1999 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. </p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian atas Penghasilan dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan yang memenuhi kriteria 1 dan 2 di atas tidak terutang PPh Final, namun berlaku ketentuan umum dimana pengenaan PPh  melalui SPT Tahunan PPh Badan.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Surat Keterangan Bebas Pembayaran Pajak Penghasilan yang bersifat final</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada poin 1 dan 2 di atas tidak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008 yang dibuktikan dengan surat keterangan bebas pembayaran Pajak Penghasilan yang bersifat final.</p>
<p style="text-align: justify;">Permohonan untuk memperoleh surat keterangan bebas pembayaran Pajak Penghasilan yang bersifat final diajukan secara tertulis oleh Wajib Pajak badan yang melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak badan yang bersangkutan terdaftar dengan format sesuai Lampiran I yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Permohonan untuk memperoleh surat keterangan bebas pembayaran Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilampiri dengan daftar tanah dan/atau bangunan yang penghasilan atas pengalihannya telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan dengan format sesuai Lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas permohonan surat keterangan bebas pembayaran Pajak Penghasilan yang bersifat final , Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus memberikan keputusan dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak tanggal surat permohonan surat keterangan bebas pembayaran Pajak Penghasilan yang bersifat final diterima secara lengkap.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sanksi atas Ketidakbenaran Data</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ditemukan data atau keterangan lain yang menunjukkan ketidakbenaran data yang disampaikan oleh Wajib Pajak, surat keterangan bebas pembayaran Pajak Penghasilan yang bersifat final yang telah diterbitkan dinyatakan tidak berlaku dan Pajak Penghasilan ditagih kembali berikut sanksi sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/aturan-peralihan-pph-pengalihan-hak-atas-tanahbangunan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PPh atas Bunga Simpanan Koperasi dan Transaksi Derivatif</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/pph-atas-bunga-simpanan-koperasi-dan-transaksi-derivatif.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/pph-atas-bunga-simpanan-koperasi-dan-transaksi-derivatif.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 16:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[bunga]]></category>
		<category><![CDATA[Derivatif]]></category>
		<category><![CDATA[Koperasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2184</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah telah mengeluarkan aturan baru mengenai pengenaan PPh atas  bunga simpanan koperasi, dan transaksi derivatif, masing-masing diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan Atas Bunga Simpanan Yang Dibayarkan Oleh Koperasi Kepada Anggota Koperasi Orang Pribadi, dan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Transaksi Derivatif Berupa Kontrak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pemerintah telah mengeluarkan aturan baru mengenai pengenaan PPh atas  bunga simpanan koperasi, dan transaksi derivatif, masing-masing diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2009 tentang  Pajak Penghasilan Atas Bunga Simpanan Yang Dibayarkan Oleh Koperasi Kepada Anggota Koperasi Orang Pribadi, dan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Transaksi Derivatif Berupa Kontrak Berjangka Yang Diperdagangkan di Bursa.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PPh atas Bunga Simpanan  Koperasi </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikenakan PPh Final<br />
 </strong></p>
<p>Penghasilan berupa bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi yang didirikan di Indonesia kepada anggota koperasi orang pribadi dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Tarif</strong></p>
<p>Besarnya Pajak Penghasilan adalah:</p>
<ul>
<li>0%  (nol persen) untuk penghasilan berupa bunga simpanan sampai dengan Rp 240.000  (dua ratus empat puluh ribu rupiah) per bulan; atau</li>
<li>10% (sepuluh persen) dzrri jumiah bruto bunga untuk penghasilan berupa bunga simpanan lebih dari Rp 240.000 (dua ratus empat puluh ribu rupiah) per bulan.</li>
</ul>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>PPh atas Penghasilan Dari Transaksi Derivatif </strong></p>
<p><strong>Dikenakan PPh Final</strong></p>
<p>Penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh orang pribadi atau badan dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final.</p>
<p><strong>Tarif</strong><br />
 Besarnya Pajak Penghasilan  adalah sebesar 2,5%  (dua koma lima persen) dari margin awal.<strong><br />
 </strong></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/pph-atas-bunga-simpanan-koperasi-dan-transaksi-derivatif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pajak Penghasilan atas Bunga Obligasi</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/pph-atas-bunga-obligasi.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/pph-atas-bunga-obligasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 14:14:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[Bunga obligasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2161</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah telah mengeluarkan aturan baru Pajak Penghasilan atas bunga obligasi yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun  2009 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi, tanggal 9 Februari 2009.   Sifat Pemotongan PPh Atas penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak berupa Bunga Obligasi dikenai pemotongan Pajak Penghasilan yang bersifat final.   Pengecualian Ketentuan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pemerintah telah mengeluarkan aturan baru Pajak Penghasilan atas bunga obligasi yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun  2009 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi, tanggal 9 Februari 2009.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sifat Pemotongan PPh <br />
 </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Atas penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak berupa Bunga Obligasi dikenai pemotongan Pajak Penghasilan yang bersifat final.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pengecualian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketentuan di atas  tidak berlaku apabila penerima penghasilan berupa Bunga Obligasi adalah:</p>
<ol>
<li>Wajib Pajak dana pensiun yang pendirian atau pembentukannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dan memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (3) huruf h Undang-Undang PPh</li>
<li>Wajib Pajak bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.</li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Tarif PPh Final</strong></p>
<ul>
<li>Bunga dari Obligasi dengan kupon sebesar:</li>
</ul>
<blockquote><ol>
<li>15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap; dan</li>
<li>20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap,</li>
</ol>
</blockquote>
<p style="padding-left: 60px;">dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan Obligasi;</p>
<p style="padding-left: 60px;"> </p>
<ul>
<li>diskonto dari 0bligasi dengan kupon sebesar:</li>
</ul>
<blockquote><ol>
<li>15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap; dan</li>
<li>20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap,</li>
</ol>
</blockquote>
<p style="padding-left: 60px;">dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan Obligasi, tidak termasuk bunga berjalan;</p>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<ul>
<li>diskonto dari Obligasi tanpa bunga sebesar:</li>
</ul>
<blockquote><ol>
<li>15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap; dan</li>
<li>20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap,</li>
</ol>
</blockquote>
<p style="padding-left: 60px;">dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan Obligasi; dan</p>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<ul>
<li>bunga dan/atau diskonto dari Obligasi yang diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak reksadana yang terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sebesar:</li>
</ul>
<blockquote><ol>
<li>0% (nol persen) untuk tahun 2009 sampai dengan tahun 2010;</li>
<li>5% (lima persen) untuk tahun 201 1 sampai dengan tahun 2013; dan</li>
<li>15% (lima belas persen) untuk tahun 2014 dan seterusnya.</li>
</ol>
</blockquote>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Pemotong PPh Final</strong></p>
<p>Pemotongan Pajak Penghasilan dilakukan oleh:</p>
<ol>
<li>penerbit Obligasi atau kustodian selaku agen pembayaran yang ditunjuk, atas bunga dan/ atau diskonto yang diterima pemegang Obligasi dengan kupon pada saat jatuh tempo Bunga Obligasi, dan diskonto yang diterima pemegang obligasi tanpa bunga pada saat jatuh tempo Obligasi; dan/atau</li>
<li>perusahaan efek, dealer, atau bank, selaku pedagang perantara dan/atau pembeli, atas bunga dan diskonto yang diterima penjual Obligasi pada saat tralisaksi.</li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Masa Berlaku</strong></p>
<p>Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun  2009 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi berlaku sejak 1 Januari 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/pph-atas-bunga-obligasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PPh atas Dividen Orang Pribadi</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/pph-atas-deviden-orang-pribadi.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/pph-atas-deviden-orang-pribadi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 07:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[deviden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2144</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang menerima dividen akan dikenakan PPh Final sebesar 10%, hal tersebut diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2009 Tentang Pajak Penghasilan Atas Deviden Yang diterima atau Diperoleh Oleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri, yang diterbitkan tanggal 9 Februari 2009.   Objek, Tarif  dan Sifat Pemotongan PPh Penghasilan berupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang menerima dividen akan dikenakan PPh Final sebesar 10%, hal tersebut diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor  19 Tahun 2009 Tentang Pajak Penghasilan Atas Deviden Yang diterima atau  Diperoleh Oleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri, yang diterbitkan tanggal 9 Februari 2009.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Objek, Tarif  dan Sifat Pemotongan PPh</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penghasilan berupa dividen yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dikenai Pajak Penghasilan sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemotong PPh<br />
 </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud di atas dilakukan melalui pemotongan oleh pihak yang membayar atau pihak lain yang ditunjuk selaku pembayar dividen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/pph-atas-deviden-orang-pribadi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PPh Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/pph-pengalihan-hak-atas-tanah-danatau-bangunan.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/pph-pengalihan-hak-atas-tanah-danatau-bangunan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 13:43:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[Penjualan Tanah dan Bangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=1520</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah telah mengeluarkan aturan baru mengenai Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan yaitu dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2008 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 Tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan yang dikeluarkan pada tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Pemerintah telah mengeluarkan aturan baru mengenai Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah  dan/atau Bangunan yaitu dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2008 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 Tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan yang dikeluarkan pada tanggal 4 November 2008.  Sebagai peraturan pelaksanaannya adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 243/PMK.03/2008 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 635/KMK.04/1994 Tentang Pelaksanaan Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan tanggal 31 Desember 2008. </span></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Objek PPh </span></strong></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan wajib dibayar Pajak Penghasilan.</span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan adalah:</span></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">penjualan, tukar-menukar, perjanjian pemindahan hak, pelepasan hak, penyerahan hak lelang, hibah, atau cara lain yang disepakati dengan pihak lain selain pemerintah;</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, atau cara lain yang disepakati dengan pemerintah guna pelaksanaan pembangunan, termasuk pembangunan untuk kepentingan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus;</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, atau cara lain kepada pemerintah guna pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan persyaratan khusus.</span></li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Subjek Pajak</span></strong></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari pengalihan hak atas sendiri Pajak Penghasilan yang terutang ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro sebelum akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang tanah dan/atau bangunan, wajib membayar</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Pejabat yang berwenang hanya menanda tangani akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan apabila kepadanya dibuktikan oleh Orang pribadi atau badan telah dipenuhi dengan menyerahkan fotokopi Surat Setoran Pajak yang bersangkutan dengan menunjukan aslinya.</span></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Pejabat yang berwenang menandatangani akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang wajib menyampaikan laporan bulanan mengenai penerbitan akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan kepada Direktur Jenderal Pajak.</span></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Yang dimaksud dengan pejabat yang berwenang  adalah Notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah, Camat, Pejabat Lelang, atau pejabat lain yang diberi wewenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.</span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br />
 </span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><strong>Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan kepada pemerintah</strong></span></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari pengalihan hak atasPenghasilan oleh bendaharawan atau pejabat yang melakukan pembayaran atau pejabat yang menyetujui tukar-menukar tanah dan/atau bangunan dipungut Pajak</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Bendaharawan atau pejabat  wajib menyetor Pajak Penghasilan yang telah dipungut ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro sebelum melakukan pembayaran kepada orang pribadi atau badan yang berhak menerimanya atau sebelum tukar-menukar dilaksanakan.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Penyetoran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama orang pribadi atau badan yang menerima pembayaran atau yang melakukan tukar-menukar.</span></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Bendaharawan atau pejabat wajib menyampaikan laporan mengenai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan kepada Direktur Jenderal Pajak.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br class="spacer_" /></span></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Tarif PPh</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Besarnya Pajak Penghasilan adalah sebesar 5% (lima persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, kecuali atas pengalihan hak atas Rumah Sederhana dan Rumah Susun Sederhana yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dikenai Pajak Penghasilan sebesar 1% (satu persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan.</span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br class="spacer_" /></span></p>
<p><strong><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Dasar Pengenaan Pajak</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Nilai pengalihan hak adalah nilai yang tertinggi antara nilai berdasarkan Akta Pengalihan Hak dengan Nilai Jual Objek Pajak tanah dan/atau bangunan yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan, kecuali :</span></p>
<ol>
<li><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">dalam hal pengalihan hak kepada Pemerintah adalah nilai berdasarkan keputusan pejabat yang bersangkutan;</span></li>
<li><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">dalam ha1 pengalihan hak sesuai dengan peraturan lelang (Staatsblad Tahun 1908 Nomor 189 dengan segala perubahannya) adalah nilai menurut risalah lelang tersebut.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br class="spacer_" /></span></p>
<p><strong><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Nilai Jual Objek Pajak adalah Nilai Jual Objek Pajak menurut Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan tahun yang bersangkutan atau dalam ha1 Surat Pemberitahuan Pajak Teru tang dimaksud belum terbit, adalah Nilai Jual Objek Pajak menurut Surat Pemberitahuan Pajak Terutang tahun pajak<br />
 sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br class="spacer_" /></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Apabila tanah dan/atau bangunan tersebut belum terdaftar pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama, maka Nilai Jual Objek Pajak yang dipakai adalah Nilai Jual Objek Pajak menurut surat keterangan yang di terbitkan Kepala Kantor yang wilayah kerjanya meliputi lokasi tanah dan/ atau bangunan yang bersangkutan berada.</span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br class="spacer_" /></span></p>
<p><strong><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Rumah Sederhana dan Rumah Susun Sederhana</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Rumah Sederhana sebagaimana dimaksud di atas terdiri atas Kumah Scdcrhana Sehat dan Rumah Inti Tumbuh, yang mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Rumah Susun Sederhana sebagaimana dimaksud  di atas adalah bangunan bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang dipcrgunakan sebagai tempat hunian yang dilengkapi dengan  KM/WC dan dapur baik bersatu dengan unit hunian maupun terpisah dengan penggunaan komunal termasuk Rumah Susun Sederhana Milik, yang mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sesuai dcngan ketentuan peraturan perundang-undangan.</span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br class="spacer_" /></span></p>
<p><strong><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Pengecualian</span></strong></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Dikecualikan dari kewajiban pembayaran atau pernungutan Pajak Penghasilan adalah:</span></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">orang pribadi yang mempunyai penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak yang melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan jumlah bruto pengalihannya kurang dari Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) dan bukan merupakan jumlah yang dipecahpecah</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan kepada Pemerintah guna pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan persyaratan khusus</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">orang pribadi yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan cara hibah kepada derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang hibah tersebut tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan; keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan badan sosial termasuk yayasan, koperasi atau orang</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">badan yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan cara hibah kepada badan termasuk yayasan, koperasi atau orang pribadi yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang hibah tersebut tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan; ataukeagamaan, badan pendidikan, badan sosial  menjalankan usaha mikro dan kecil, yang</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena warisan.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br />
 </span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><strong>Sifat Pembayaran PPh adalah Final</strong><br />
 </span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Bagi Wajib Pajak yang melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah dan/ atau bangunan, pembayaran Pajak Penghasilan bersifat final.</span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br />
 </span></p>
<p><strong><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Aturan Peralihan</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini, terhadap Wajib Pajak badan, termasuk koperasi, yang usaha pokoknya melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, apabila:<br />
 </span></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan sebelum tanggal 1 Januari 2009 dan atas pengalihan hak tersebut belum dibuatkan akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan, atau risalah lelang oleh pejabat yang berwenang; dan</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">penghasilan atas pengalihan hak sebagaimana dimaksud di atas telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang bersangkutan dan Pajak Penghasilan atas penghasilan tersebut telah dilunasi, pengenaan pajaknya dihitung berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari , Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/ atau Bangunan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 1999</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br />
 </span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Saat Berlaku </span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;">Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2008 mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009. </span></p>
<p><span style="font-size: medium; font-family: book antiqua,palatino;"><br />
 </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/pph-pengalihan-hak-atas-tanah-danatau-bangunan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Pelaksanaan PPh Jasa Konstruksi</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/tata-cara-pelaksanaan-pph-jasa-konstruksi.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/tata-cara-pelaksanaan-pph-jasa-konstruksi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 06:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[Jasa Konstruksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=1442</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai aturan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi, maka Menteri Keuangan tanggal 20 November 2008 telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-187/PMK.03/2008 Tentang Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, Pelaporan, Dan Penatausahaan PPh Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi. Pokok-pokok yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Sebagai aturan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari  Usaha Jasa Konstruksi, maka Menteri Keuangan tanggal 20 November 2008 telah  mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-187/PMK.03/2008 </span><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Tentang Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, Pelaporan, Dan  Penatausahaan PPh Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Pokok-pokok yang diatur dalam </span> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Peraturan  Menteri Keuangan Nomor<strong> </strong></span> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"><strong>PMK-187/PMK.03/2008</strong></span><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"> adalah sebagai berikut:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Atas  	penghasilan dari usaha Jasa Konstruksi dikenakan Pajak Penghasilan yang  	bersifat final. </span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Tarif  	Pajak Penghasilan untuk usaha Jasa Konstruksi adalah: </span></li>
</ul>
<blockquote>
<ul type="circle">
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">2% (dua  		persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa  		yang memiliki kualifikasi usaha kecil; </span></li>
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">4%  		(empat persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia  		Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha; </span></li>
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">3%  		(tiga persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia  		Jasa selain Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud di atas; </span></li>
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">4%  		(empat persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi  		yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha; dan </span></li>
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">6%  		(enam persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi  		yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha. </span></li>
</ul>
<p><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"><br class="spacer_" /></span></p>
</blockquote>
<ul>
<li><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Pajak  	Penghasilan yang bersifat final : </span></li>
</ul>
<blockquote>
<ul type="circle">
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"> dipotong oleh Pengguna Jasa pada saat pembayaran, dalam ha1 Pengguna  		Jasa merupakan pemotong pajak; atau </span></li>
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">disetor  		sendiri oleh Penyedia Jasa, dalam ha1 pengguna jasa bukan merupakan  		pemotong pajak. </span></li>
</ul>
</blockquote>
<ul>
<li><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"> Besarnya Pajak Penghasilan yang dipotong atau disetor sendiri  adalah: </span></li>
</ul>
<blockquote>
<ul type="circle">
<li><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"> jumlah pembayaran, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai, dikalikan  		tarif Pajak Penghasilan ; atau </span></li>
<li><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"> jumlah penerimaan pembayaran, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai,  		dikalikan tarif Pajak Penghasilan  dalam hal Pajak Penghasilan disetor  		sendiri oleh Penyedia Jasa. </span></li>
</ul>
</blockquote>
<p><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"><br class="spacer_" /></span></p>
<p><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"><strong>Aturan Peralihan</strong><br />
 </span></p>
<p><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Terhadap  kontrak yang ditandatangani sebelum tanggal 1 Januari 2008 diatur: </span></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">untuk  	pembayaran kontrak atau bagian dari kontrak sampai dengan tanggal 31  	Desember 2008, pengenaan Pajak Penghasilan berdasarkan Peraturan Pemerintah  	Nomor 140 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha  	Jasa Konstruksi; </span></li>
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">untuk  	pembayaran kontrak atau bagian dari kontrak setelah tanggal 31 Desember  	2008, pengenaan Pajak Penghasilan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51  	Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa  	Konstruksi. </span></li>
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino; color: #ff0000;"><strong> <span>Pajak  	Penghasilan yang telah dipotong atau disetor berdasarkan Peraturan  	Pemerintah Nomor 140 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan  	Dari Usaha Jasa Konstruksi DAPAT DIPINDAHBUKUKAN menjadi pembayaran Pajak  	Penghasilan yang bersifat final sebagaimana diatur berdasarkan Peraturan  	Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan  	Dari Usaha Jasa Konstruksi, sepanjang memenuhi ketentuan:</span></strong><span> </span></span>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"><strong> <span style="color: #ff0000;"> Pemotongan dan Penyetoran PPh tersebut dilakukan terhadap penghasilan  		dari usaha jasa konstruksi berdasarkan kontrak yang ditandatangani sejak  		tanggal 1 Januari 2008</span></strong></span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"><strong> <span style="color: #ff0000;"> Pembayaran kontrak atau bagian dari kontrak sebagaimana dimaksud di atas  		paling lama sampai dengan akhir bulan ditetapkannya Peraturan Menteri  		Keuangan ini.</span></strong></span></li>
</ul>
</li>
<li style="text-align: justify;"> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"> <span style="color: #ff0000;"><strong>Dalam hal terdapat kekurangan pembayaran PPh yang  	besifat final setelah dilakukan pemindahbukuan, maka kekurangan pembayaran  	Pajak Penghasilan wajib disetor oleh Penyedia Jasa, paling lambat tanggal 15  	Desember 2008</strong></span><br />
 </span></li>
</ul>
<p><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Peraturan  Menteri Keuangan Nomor<strong> </strong></span> <span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"><strong> PMK-187/PMK.03/2008</strong> Tentang Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, Pelaporan, Dan  Penatausahaan PPh Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi. berlaku sejak 1  Januari 2008</span></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;"><strong>Download</strong> </span><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-187/PMK.03/2008 </span><span style="font-size: small; font-family: georgia,palatino;">Tentang Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, Pelaporan, Dan  Penatausahaan PPh Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/tata-cara-pelaksanaan-pph-jasa-konstruksi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pokok-Pokok Perubahan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/pokok-pokok-perubahan-undang-undang-pph-baru.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/pokok-pokok-perubahan-undang-undang-pph-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 16:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PPh]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=1004</guid>
		<description><![CDATA[Undang-Undang Pajak Penghasilan yang baru yaitu Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan akan berlaku mulai 1 Januari 2009, waktu yang tidak lama lagi. Oleh karena itu mengetahui Pasal-pasal mana saja yang berubah merupakan suatu hal yang wajib dilakukan oleh orang-orang yang berhubungan dengan dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Undang-Undang Pajak Penghasilan yang baru yaitu <a href="http://pajak.go.id/dmdocuments/UNDANG%20UNDANG%20PPh%20NOMOR%2036%20TAHUN%202008.zip">Undang-undang Nomor </a><a href="http://pajak.go.id/dmdocuments/UNDANG%20UNDANG%20PPh%20NOMOR%2036%20TAHUN%202008.zip">36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan</a> akan berlaku mulai 1 Januari 2009, waktu yang tidak lama lagi. Oleh karena itu mengetahui Pasal-pasal mana saja yang berubah merupakan suatu hal yang wajib dilakukan oleh orang-orang yang berhubungan dengan dunia perpajakan agar dapat dilakukan tax planning di tahun depan.</p>
<div><strong>Pokok-Pokok Perubahan Undang-Undang PPh dengan Undang-Undang PPh Baru</strong><a href="http://pajak.go.id/dmdocuments/UNDANG%20UNDANG%20PPh%20NOMOR%2036%20TAHUN%202008.zip"><strong> Undang-undang Nomor </strong></a><a href="http://pajak.go.id/dmdocuments/UNDANG%20UNDANG%20PPh%20NOMOR%2036%20TAHUN%202008.zip"><strong>36 Tahun 2008</strong></a></div>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="1">
<li>Subjek      Pajak</li>
<li>Objek      Pajak</li>
<li>Objek      Pajak Pasal 4 Ayat (2)</li>
<li>Pengecualian      Dari Objek Pajak</li>
<li>Biaya      Pengurang Penghasilan Bruto</li>
<li>Isteri      Yang Memilih Untuk Memiliki Npwp Sendiri</li>
<li>Norma      Penghitungan Penghasilan Neto</li>
<li>Penghasilan      Tidak Kena Pajak</li>
<li>Tarif</li>
<li>Pencegahan Penghindaran Pajak (Pasal      18)</li>
<li>Pemotongan/Pemungutan</li>
<li>Kredit Pajak Luar Negeri (Pasal 24)</li>
<li>Angsuran      Pajak Tahun Berjalan</li>
<li>Ketentuan      Perpajakan Pertambangan Dan Syariah</li>
<li>Fasilitas      Perpjakan Bagi UMKM</li>
</ol>
<div><strong>1. SUBJEK PAJAK (Pasal 2 ayat (5))</strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;">Perluasan Pengertian Bentuk Usaha Tetap meliputi:</div>
<ul>
<li>Gudang;</li>
<li>Ruang untuk promosi dan penjualan; dan</li>
<li>Dedicated server untuk kegiatan usaha melalui internet</li>
</ul>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong>2. OBJEK PAJAK (Pasal 4)</strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="a">
<li>Pengalihan Hak di Bidang Pertambangan</li>
<li>Penghasilan dari usaha yang berbasis      syariah</li>
<li>Imbalan      bunga</li>
<li>Bunga Obligasi yang Diterima atau      Diperoleh Reksadana</li>
<li>Surplus      Bank Indonesia</li>
</ol>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>PENGALIHAN HAK DI BIDANG PERTAMBANGAN</strong><br />
 (Pasal 4 ayat (1) huruf d angka 5)</div>
<ul>
<li>Menegaskan keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan di sektor hulu migas merupakan objek pajak (Pasal 4 ayat (1) huruf d angka 5).</li>
</ul>
<div><strong> PENGHASILAN DARI USAHA BERBASIS SYARIAH</strong><br />
 (Pasal 4 ayat (1) huruf q)</div>
<ul>
<li>Penghasilan dari kegiatan usaha berbasis syariah ditegaskan sebagai objek pajak.</li>
</ul>
<div><strong> IMBALAN BUNGA</strong><br />
 (Pasal 4 ayat (1) huruf r)</div>
<ul>
<li>Imbalan bunga yang diperoleh WP sehubungan dengan pelaksanaan UU KUP ditegaskan sebagai objek pajak.</li>
</ul>
<div><strong>BUNGA OBLIGASI YANG DITERIMA REKSADANA</strong><br />
 (Pasal 4 ayat (3) huruf j)</div>
<ul>
<li>Ketentuan pengecualian bunga obligasi yang diterima reksadana (Pasal 4 ayat (3) huruf j) sebagai objek PPh dicabut sehingga dalam RUU PPh penghasilan tersebut merupakan objek pajak.</li>
</ul>
<div><strong>SURPLUS BANK INDONESIA</strong><br />
 (Pasal 4 ayat (1) huruf s)</div>
<ul>
<li>Surplus Bank Indonesia ditegaskan sebagai objek pajak.</li>
</ul>
<div><strong>3. OBJEK PAJAK PASAL 4 AYAT (2)</strong></div>
<ul>
<li>Menegaskan objek PPh Pasal 4 ayat (2) yang selama ini tidak secara eksplisit diatur dalam ketentuan ini, seperti antara lain:
<ul>
<li>Bunga obligasi dan Surat Utang Negara</li>
<li>Hadiah undianPengalihan saham pasangan perusahaan modal ventura</li>
<li>Persewaan tanah dan bangunan</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><br class="spacer_" /></p>
<ul>
<li>Memindahkan bunga simpanan koperasi yang sekarang dikenai PPh Pasal 23 final menjadi objek PPh Pasal 4 ayat (2) final.</li>
<li>Menambah objek PPh Pasal 4 ayat (2) final meliputi:
<ul>
<li>Penghasilan dari transaksi derivatif; dan</li>
<li>Penghasilan dari usaha jasa konstruksi dan real estate.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<div><strong>4. PENGECUALIAN DARI OBJEK PAJAK (Pasal 4 ayat (3))</strong></div>
<ul>
<li><span> </span> Zakat dan sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia</li>
<li><span> </span>Inter corporate dividend</li>
<li><span> </span>Beasiswa</li>
<li><span> </span>Bagian laba unit penyertaan KIK</li>
<li><span> </span>Sisa lebih lembaga nirlaba bidang pendidikan dan bidang penelitian dan pengembangan</li>
<li><span> </span>Bantuan/santunan yang diterima dari BPJS</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>ZAKAT DAN SUMBANGAN KEAGAMAAN</strong><br />
 (Pasal 4 ayat (3) huruf a angka 1)</div>
<ul>
<li>Sama dengan zakat, sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluknya ditegaskan juga bukan merupakan objek pajak (syarat, dll diatur dengan PP)</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong> </strong></div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>INTER-CORPORATE DIVIDEND</strong><br />
 (Pasal 4 ayat (3) huruf f)</div>
<ul>
<li><span> </span>Syarat memiliki usaha aktif bagi WP yang menerima <em>inter-corporate dividend</em> dihapus.</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>BEASISWA </strong></div>
<div style="margin-left: 18pt;">(Pasal 4 ayat (3) huruf l)</div>
<ul>
<li><span> </span>Beasiswa dikecualikan sebagai Objek Pajak (syarat, dll diatur dengan PMK)</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>BAGIAN LABA UNIT PENYERTAAN KIK </strong><br />
 (Pasal 4 ayat (3) huruf i)</div>
<ul>
<li>Bagian laba yang diterima atau diperoleh pemegang unit penyertaan Kontrak Investasi Kolektif (KIK) bukan merupakan Objek Pajak.</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>SISA LEBIH LEMBAGA PENDIDIKAN DAN LEMBAGA LITBANG </strong></div>
<div style="margin-left: 18pt;">(Pasal 4 ayat (3) huruf m)</div>
<ul>
<li>Sisa lebih lembaga nirlaba bidang pendidikan dan/atau bidang litbang (yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya) yang ditanamkan kembali dalam jangka waktu paling lama empat tahun dikecualikan sebagai objek pajak (ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan PMK).</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>BANTUAN/SANTUNAN DARI BPJS</strong><br />
 (Pasal 4 ayat (3) huruf n)</div>
<ul>
<li>Bantuan/santunan dari BPJS yang diterima WP tertentu bukan merupakan Objek Pajak (ketentuan lebih lanjut diatur dengan atau berdasarkan PMK).</li>
</ul>
<div><strong>5. BIAYA PENGURANG PENGHASILAN BRUTO (Pasal 6)</strong></div>
<ul>
<li><span> </span>Biaya Promosi dan Penjualan</li>
<li><span> </span>Biaya Beasiswa</li>
<li><span> </span>Piutang Tak Tertagih</li>
<li><span> </span>Pemupukan Dana Cadangan</li>
<li><span> </span>Sumbangan yang dapat dibiayakan</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>BIAYA PROMOSI DAN PENJUALAN</strong><br />
 (Pasal 6 ayat (1) huruf a angka 7)</div>
<div style="margin-left: 18pt;">Biaya Promosi dan Penjualan ditegaskan sebagai pengurang penghasilan bruto yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan PMK.</div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>BIAYA BEASISWA </strong><br />
 (Pasal 6 ayat (1) huruf g)</div>
<div style="margin-left: 18pt;">Beasiswa yang dapat dibiayakan diperluas meliputi pemberian beasiswa kepada bukan pegawai seperti pelajar dan mahasiswa tetapi tetap memperhatikan kewajarannya.</div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>PIUTANG TAK TERTAGIH </strong><br />
 (Pasal 6 ayat (1) huruf h)</div>
<div style="margin-left: 18pt;">Syarat untuk membiayakan piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dipermudah menjadi:</div>
<div style="margin-left: 45pt; text-indent: -18pt;"><span>1.<span> </span></span>telah dibiayakan dalam laporan laba rugi komersial;</div>
<div style="margin-left: 45pt; text-indent: -18pt;"><span>2.<span> </span></span>WP harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada DJP; dan</div>
<div style="margin-left: 45pt; text-indent: -18pt;"><span>3.<span> </span></span>telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau ada perjanjian tertulis dengan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; atau ada pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan.</div>
<div style="margin-left: 45pt; text-indent: -18pt;"><span>4.<span> </span></span>Syarat nomor 3 tidak berlaku bagi piutang debitur kecil yang dihapuskan.</div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>PEMUPUKAN DANA CADANGAN</strong><br />
 (Pasal 9 ayat (1) huruf c)</div>
<div style="margin-left: 18pt;">Pembentukan cadangan diperluas meliputi:</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;">1.<span> </span>Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang;</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;">2.<span> </span>Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span>3.<span> </span></span>Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span>4.<span> </span></span>Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span>5.<span> </span></span>Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span>6.<span> </span></span>Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan  limbah industri,</div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>SUMBANGAN YANG DAPAT DIBIAYAKAN</strong><br />
 (Pasal 6 ayat (1) huruf I,j,k,l dan m)</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>Sumbangan yang dapat dibiayakan meliputi:</div>
<div style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;">1.<span> </span>sumbangan penanggulangan bencana nasional</div>
<div style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;">2.<span> </span>sumbangan penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia</div>
<div style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;">3.<span> </span>biaya pembangunan infrastruktur sosial</div>
<div style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;">4.<span> </span>sumbangan fasilitas pendidikan</div>
<div style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;">5.<span> </span>sumbangan pembinaan olahraga</div>
<div><strong>6. ISTERI YANG MEMILIH UNTUK MENJALANKAN HAK DAN </strong></div>
<div><strong> <span> KEWAJIBAN PERPAJAKANNYA SENDIRI<br />
 (Pasal 8 ayat (2))</span></strong></div>
<ul>
<li>Penghasilan suami-isteri dikenakan pajak secara terpisah apabila dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri.</li>
<li>Tata cara penghitungan PPh terutang sama dengan suami-isteri yang melakukan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan.</li>
</ul>
<div><strong>7. NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO<br />
 <span> (Pasal 14 ayat (2))</span></strong></div>
<ul>
<li>Batas peredaran usaha untuk dapat menggunakan norma penghitungan penghasilan neto dinaikkan dari Rp 600 juta menjadi sebesar Rp 4,8 miliar.</li>
</ul>
<ul>
<li><span> </span>Ketentuan ini sejalan dengan dengan ketentuan Pasal 28 ayat (2) yang berbunyi:</li>
</ul>
<div style="margin-left: 36pt;">Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tetapi wajib melakukan pencatatan, adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dan Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas</div>
<div><strong>8. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK<br />
 (Pasal 7 ayat (1))</strong></div>
<table style="width: 428px; margin-left: 57pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height: 32.25pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 127.2pt; height: 32.25pt;" width="170" valign="bottom">
<div><strong> </strong></div>
<div><strong> </strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 97.65pt; height: 32.25pt;" width="130" valign="bottom">
<div><strong>Sekarang</strong></div>
<div><strong>(Rp)</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 96.15pt; height: 32.25pt;" width="128" valign="bottom">
<div><strong>RUU</strong></div>
<div><strong>(Rp)</strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 29.25pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 127.2pt; height: 29.25pt;" width="170" valign="bottom">
<div><strong>WP</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 97.65pt; height: 29.25pt;" width="130" valign="bottom">
<div><strong>13.200.000,-</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 96.15pt; height: 29.25pt;" width="128" valign="bottom">
<div><strong>15.840.000,-</strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 29.25pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 127.2pt; height: 29.25pt;" width="170" valign="bottom">
<div><strong>WP Kawin</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 97.65pt; height: 29.25pt;" width="130" valign="bottom">
<div><strong>1.200.000,-</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 96.15pt; height: 29.25pt;" width="128" valign="bottom">
<div><strong>1.320.000,-</strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 29.25pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 127.2pt; height: 29.25pt;" width="170" valign="bottom">
<div><strong>Isteri Bekerja</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 97.65pt; height: 29.25pt;" width="130" valign="bottom">
<div><strong>13.200.000,-</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 96.15pt; height: 29.25pt;" width="128" valign="bottom">
<div><strong>15.840.000,-</strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 29.25pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 127.2pt; height: 29.25pt;" width="170" valign="bottom">
<div><strong>Tanggunan</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 97.65pt; height: 29.25pt;" width="130" valign="bottom">
<div><strong>1.200.000,-</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 96.15pt; height: 29.25pt;" width="128" valign="bottom">
<div><strong>1.320.000,-</strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 29.25pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 127.2pt; height: 29.25pt;" width="170" valign="bottom">
<div><strong>Maks. Tanggungan</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 97.65pt; height: 29.25pt;" width="130" valign="bottom">
<div><strong>K/3</strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 96.15pt; height: 29.25pt;" width="128" valign="bottom">
<div><strong>K/3</strong></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div><strong>9. TARIF (PASAL 17)</strong></div>
<ul>
<li><span> </span>Tarif WP Orang Pribadi</li>
<li><span> </span>Tarif WP Badan</li>
<li><span> </span>Tarif WP PerseroanTerbuka</li>
<li><span> </span>Tarif Dividen yang diterima WP orang pribadi dalam negeri</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>TARIF WP ORANG PRIBADI</strong><br />
 (Pasal 17 ayat (1) huruf a)</div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong><span style="font-size: 9pt;">Ketentuan Sekarang</span></strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<table style="width: 492px; margin-left: 33pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 37.2pt; height: 18.75pt;" width="50" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">No.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 256.65pt; height: 18.75pt;" width="342" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Lapisan Penghasilan</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 75.15pt; height: 18.75pt;" width="100" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Tarif</span></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 37.2pt; height: 18.75pt;" width="50" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">1.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 256.65pt; height: 18.75pt;" width="342" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">S.d Rp 25.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 75.15pt; height: 18.75pt;" width="100" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">5%</span></strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 37.2pt; height: 18.75pt;" width="50" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">2.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 256.65pt; height: 18.75pt;" width="342" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Di atas Rp25.000.000,- s.d. Rp   50.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 75.15pt; height: 18.75pt;" width="100" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">10%</span></strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 37.2pt; height: 18.75pt;" width="50" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">3.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 256.65pt; height: 18.75pt;" width="342" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp   100.000.000</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 75.15pt; height: 18.75pt;" width="100" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">15%</span></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 37.2pt; height: 18.75pt;" width="50" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">4.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 256.65pt; height: 18.75pt;" width="342" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Di atas Rp100.000.000,-   s.d.Rp200.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 75.15pt; height: 18.75pt;" width="100" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">25%</span></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 37.2pt; height: 18.75pt;" width="50" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">5.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 256.65pt; height: 18.75pt;" width="342" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Di atas Rp200.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 75.15pt; height: 18.75pt;" width="100" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">35%</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin-left: 36pt;"><strong><span style="font-size: 9pt;">Keputusan Perubahan:</span></strong></div>
<table style="width: 494px; margin-left: 32.25pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height: 23.25pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 39pt; height: 23.25pt;" width="52" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">No.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 255.25pt; height: 23.25pt;" width="340" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Lapisan   Penghasilan</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 76.25pt; height: 23.25pt;" width="102" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Tarif</span></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 39pt; height: 18.75pt;" width="52" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">1.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 255.25pt; height: 18.75pt;" width="340" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">S.d. Rp   50.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 76.25pt; height: 18.75pt;" width="102" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">5%</span></strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 39pt; height: 18.75pt;" width="52" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">2.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 255.25pt; height: 18.75pt;" width="340" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 250.000.000</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 76.25pt; height: 18.75pt;" width="102" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">15%</span></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 39pt; height: 18.75pt;" width="52" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">3.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 255.25pt; height: 18.75pt;" width="340" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Di atas Rp250.000.000,- s.d.Rp 500.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 76.25pt; height: 18.75pt;" width="102" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">25%</span></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 39pt; height: 18.75pt;" width="52" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">4.</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 255.25pt; height: 18.75pt;" width="340" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Di atas   Rp500.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 76.25pt; height: 18.75pt;" width="102" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">30%</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin-left: 36pt;"><strong>PENURUNAN TARIF LAPISAN TERTINGGI WP OP</strong><br />
 (Pasal 17 ayat (2))</div>
<div style="margin-left: 36pt;">Tarif tertinggi PPh orang pribadi dapat diturunkan menjadi paling rendah 25% yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.</div>
<div style="margin-left: 36pt;"><strong>TARIF WP BADAN </strong><br />
 (Pasal 17 ayat (1) huruf b)</div>
<div style="margin-left: 36pt;">Ketentuan Sekarang</div>
<div>
<table style="width: 369px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height: 20.25pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 279.75pt; height: 20.25pt;" width="373" valign="top">
<div style="margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 9pt;">Lapisan   Penghasilan</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 89.25pt; height: 20.25pt;" width="119" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">Tarif</span></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 279.75pt; height: 18.75pt;" width="373" valign="top">
<div style="margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 9pt;">s.d   Rp 50.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 89.25pt; height: 18.75pt;" width="119" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">10%</span></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 279.75pt; height: 18.75pt;" width="373" valign="top">
<div style="margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 9pt;">Di atas   Rp          50.000.000,- s.d. </span><span style="font-size: 9pt;">Rp 100.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 89.25pt; height: 18.75pt;" width="119" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">15%</span></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 18.75pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 279.75pt; height: 18.75pt;" width="373" valign="top">
<div style="margin-left: 36pt;"><span style="font-size: 9pt;">Di   atas Rp        100.000.000,-</span></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 89.25pt; height: 18.75pt;" width="119" valign="top">
<div><span style="font-size: 9pt;">30%</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div style="margin-left: 9pt;">Ketentuan Baru</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span>·<span> </span></span>Tarif tunggal sebesar 28% untuk tahun pajak 2009.</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span>·<span> </span></span>Mulai tahun 2010 diturunkan menjadi 25%.</div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>TARIF WP PERSEROAN TERBUKA</strong><br />
 (Pasal 17 ayat (2b))</div>
<div style="margin-left: 18pt;">WP badan dalam negeri berbentuk perseroan terbuka memeroleh penurunan tarif sebesar 5% dari tarif WP badan yang berlaku sepanjang memenuhi syarat:</div>
<ul>
<li>paling sedikit 40% dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;<span> </span>persyaratan tertentu lainnya.</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>TARIF DIVIDEN YANG DITERIMA WP OP DALAM NEGERI </strong><br />
 (Pasal 17 ayat (2c))</div>
<ul>
<li>Tarif yang dikenakan atas dividen yang diterima WP OP dalam negeri adalah setinggi-tingginya sebesar 10% dan bersifat final (diatur lebih lanjut dengan PP).</li>
</ul>
<div><strong>10. PENCEGAHAN PENGHINDARAN PAJAK (PASAL 18)</strong></div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;">1.<span> </span>Pembelian saham atau aset perusahaan WP dalam negeri melalui Spesial Purpose Company (SPC).</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;">2.<span> </span>Penjualan saham SPC di tax haven country yang memiliki saham WP dalam negeri.</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;">3.<span> </span>Pembayaran gaji ekspatriat yang ditempatkan oleh perusahaan induk di luar negeri untuk bekerja sebagai pegawai perusahaan/WP dalam negeri yang merupakan anak perusahaannya.</div>
<div><strong> </strong></div>
<div style="margin-left: 18pt;">PASAL 18 AYAT (3b)</div>
<div style="margin-left: 18pt;">Wajib Pajak yang melakukan pembelian saham atau aktiva perusahaan melalui pihak lain atau badan yang dibentuk untuk maksud demikian (<em>Special Purpose Company</em>), dapat ditetapkan sebagai pihak yang sebenarnya melakukan pembelian tersebut sepanjang Wajib Pajak yang bersangkutan mempunyai hubungan istimewa dengan pihak lain atau badan tersebut dan terdapat ketidakwajaran penetapan harga.</div>
<div style="margin-left: 18pt;">PASAL 18 AYAT (3c)</div>
<div style="margin-left: 18pt;">Penjualan atau pengalihan saham perusahaan antara (<em>conduit company</em> atau <em>Special Purpose Company</em>) yang didirikan atau bertempat kedudukan di negara yang memberikan perlindungan pajak (<em>Tax Haven Country</em>) yang mempunyai hubungan istimewa dengan badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau bentuk usaha tetap di Indonesia dapat ditetapkan sebagai penjualan atau pengalihan saham badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau bentuk usaha tetap di Indonesia.</div>
<div style="margin-left: 18pt;">PASAL 18 AYAT (3d)</div>
<div style="margin-left: 18pt;">Besarnya penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dari pemberi kerja yang memiliki hubungan istimewa dengan perusahaan lain yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia dapat ditentukan kembali, dalam hal pemberi kerja mengalihkan seluruh atau sebagian penghasilan Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri tersebut ke dalam bentuk biaya atau pengeluaran lainnya yang dibayarkan kepada perusahaan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia tersebut.</div>
<div><strong>11. PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN</strong></div>
<ul>
<li><span> </span>Pembedaan tarif pemotongan/pemungutan</li>
<li><span> </span>Saat Terutang</li>
<li><span> </span>Perluasan Objek PPh Pasal 22</li>
<li><span> </span>Perubahan tarif PPh Pasal 23</li>
<li><span> </span>Penegasan dan Perluasan Objek PPh Pasal 26</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>PEMBEDAAN TARIF PEMOTONGAN/ PEMUNGUTAN</strong></div>
<div style="margin-left: 18pt;">Pembedaan tarif pemotongan/pemungutan:</div>
<ul>
<li><span> </span>Tarif bagi WP ber-NPWP</li>
<li><span> </span>Tarif bagi WP tidak ber-NPWP</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>SAAT TERUTANG</strong></div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>Ketentuan saat terutang PPh Pasal 23/26 pada saat biaya dibebankan (diakui) dalam pembukuan dihapuskan.</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>Saat terutang PPh Pasal 23/26 menjadi:</div>
<ul>
<li><span> </span> Saat dibayarkan;</li>
<li><span> </span>Saat disediakan untuk dibayarkan; dan</li>
<li><span> </span>Ketika pembayarannya telah jatuh tempo.</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;">TARIF PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN</div>
<table style="width: 324px; margin-left: 37.1pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height: 36.45pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 71.9pt; height: 36.45pt;" width="96" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">Jenis Pot/Put</span></strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 171pt; height: 36.45pt;" width="228" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">Tarif  Non-NPWP</span></strong></div>
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">dibandingkan</span></strong></div>
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">Tarif  NPWP</span></strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 11.9pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 71.9pt; height: 11.9pt;" width="96" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;"> Pasal   21</span></strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 171pt; height: 11.9pt;" width="228" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">20% lebih tinggi</span></strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 5.5pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 71.9pt; height: 5.5pt;" width="96" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;"> Pasal 22</span></strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 171pt; height: 5.5pt;" width="228" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">100% lebih tinggi</span></strong></div>
</td>
</tr>
<tr style="height: 8.8pt;">
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 71.9pt; height: 8.8pt;" width="96" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;"> Pasal   23</span></strong></div>
</td>
<td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm; width: 171pt; height: 8.8pt;" width="228" valign="top">
<div><strong><span style="font-size: 9pt;">100% lebih tinggi</span></strong></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>PERLUASAN OBJEK PPH PASAL 22</strong></div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>WP yang membeli barang yang tergolong sangat mewah dipungut PPh Pasal 22 sebagai pembayaran PPh tahun berjalan.</div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>PERUBAHAN TARIF PPH PASAL 23</strong></div>
<div style="margin-left: 18pt;"><span> </span>Tarif PPh Pasal 23 yang semula hanya 15% diubah menjadi sebagai berikut:</div>
<ul>
<li>15% dari peredaran bruto atas dividen, bunga, royalti, dan hadiah, penghargaan, bonus dan sejenisnya;</li>
<li><span> </span>2% dari peredaran bruto atas jasa-jasa seperti sewa, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lainnya.</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>PERLUASAN DAN PENEGASAN OBJEK PASAL 26</strong></div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>Perluasan objek baru:</div>
<ul>
<li><span> </span>Keuntungan karena pembebasan utang</li>
</ul>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>Penegasan:</div>
<ul>
<li>Premi swap ditempatkan pada butir tersendiri dan diperluas menjadi: premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya;</li>
</ul>
<div><strong>12. KREDIT PAJAK LUAR NEGERI (PASAL 24)</strong></div>
<div style="margin-left: 18pt;">Ketentuan mengenai penentuan sumber penghasilan diperluas meliputi:</div>
<ul>
<li>sumber penghasilan dari pengalihan hak penambangan adalah negara tempat lokasi penambangan berada;</li>
<li><span> </span>sumber penghasilan dari pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap berada;</li>
<li><span> </span>sumber penghasilan dari pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada.</li>
</ul>
<div><strong>13. ANGSURAN PAJAK TAHUN BERJALAN (PASAL 25)</strong></div>
<ul>
<li><span> </span>Penghitungan PPh Pasal 25 bagi WP yang wajib membuat laporan keuangan berkala.</li>
<li><span> </span>PPh Pasal 25 WP Orang Pribadi Tertentu.</li>
<li><span> </span>Fiskal Luar Negeri.</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>PPH PASAL 25 WP YANG WAJIB MEMBUAT LAPORAN KEUANGAN BERKALA</strong></div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>Seluruh perusahaan yang diwajibkan membuat laporan keuangan berkala dapat membayar angsuran berdasarkan laporan keuangan berkala tersebut.</div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>PPH PASAL 25 WP ORANG PRIBADI TERTENTU</strong></div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>Besarnya PPh Pasal 25 bagi WP OP pengusaha tertentu ditetapkan paling tinggi sebesar 0,75% dari peredaran bruto.</div>
<div style="margin-left: 18pt;"><strong>FISKAL LUAR NEGERI </strong></div>
<div style="margin-left: 18pt;">Pasal 25 ayat (8))</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>Fiskal Luar Negeri (FLN) hanya wajib dibayar oleh WP yang bertolak ke luar negeri yang telah berusia lebih dari 21 tahun dan belum memiliki NPWP.</div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>Ketentuan ini berlaku sampai dengan tahun 2010 sehingga mulai tahun 2011 seluruh WP yang bertolak ke luar negeri tidak perlu membayar FLN.</div>
<div><strong>14. KETENTUAN PERPAJAKAN PERTAMBANGAN DAN SYARIAH<br />
 <span> (Pasal 31 D)</span></strong></div>
<div style="margin-left: 18pt;">Ketentuan perpajakan bagi bidang usaha:</div>
<ul>
<li><span> </span> pertambangan minyak dan gas bumi,</li>
<li><span> </span> bidang usaha panas bumi,</li>
<li><span> </span> bidang usaha pertambangan umum</li>
<li><span> </span> bidang usaha berbasis syariah</li>
</ul>
<div style="margin-left: 18pt;">diatur tersendiri dengan Peraturan Pemerintah.</div>
<div><strong>15. FASILITAS PERPAJAKAN BAGI UMKM<br />
 <span> (Pasal 31E)</span></strong></div>
<div style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span> </span>WP badan dalam negeri dengan peredaran bruto s.d Rp50 miliar mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif normal yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4,8 miliar.</div>
<p><strong><em><span style="font-size: medium;">Download</span></em></strong></p>
<p><a href="http://pajak.go.id/dmdocuments/UNDANG%20UNDANG%20PPh%20NOMOR%2036%20TAHUN%202008.zip">Undang-undang Nomor </a><a href="http://pajak.go.id/dmdocuments/UNDANG%20UNDANG%20PPh%20NOMOR%2036%20TAHUN%202008.zip">36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan</a></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/pokok-pokok-perubahan-undang-undang-pph-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
