<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KLINIK-PAJAK.COMPBB DAN BPHTB &#187;</title>
	<atom:link href="http://www.klinik-pajak.com/category/pbb-dan-bphtb/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.klinik-pajak.com</link>
	<description>Get Indonesian Tax Update First</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 07:01:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Nomor Objek Pajak Pajak Bumi Dan Bangunan</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/nomor-objek-pajak-pajak-bumi-dan-bangunan.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/nomor-objek-pajak-pajak-bumi-dan-bangunan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 04:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>
		<category><![CDATA[Nomor Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan]]></category>
		<category><![CDATA[PBB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=3008</guid>
		<description><![CDATA[Untuk meningkatkan tertib administrasi PBB Dirjen Pajak telah menerbitkan PER- 12/PJ/2010 tentang Nomor Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Untuk meningkatkan tertib administrasi pengelolaan data Pajak Bumi dan Bangunan serta pelayanan kepada wajib pajak,  Direktur Jenderal Pajak telah menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER &#8211; 12/PJ/2010 tentang Nomor Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan. Berikut disampaikan hal-hal yang diatur dalam PER &#8211; 12/PJ/2010.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Pengertian Nomor Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan  (NOP)</strong></p>
<p>Yang dimaksud dengan Nomor Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan yang selanjutnya disingkat dengan NOP adalah nomor identitas objek pajak Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang bersifat :</p>
<ol>
<li>unik, yaitu setiap objek pajak PBB diberikan satu NOP dan berbeda dengan NOP yang diberikan untuk objek pajak PBB lainnya;</li>
<li>tetap, yaitu NOP yang diberikan kepada setiap objek pajak PBB tidak berubah dalam jangka waktu lama; dan</li>
<li>standar, yaitu hanya ada satu sistem pemberian NOP yang berlaku secara nasional.</li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Pemberian dan Penggunaan NOP</strong></p>
<ul>
<li>NOP diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada saat dilakukan pendaftaran dan/atau pendataan objek pajak PBB</li>
<li>NOP digunakan dalam administrasi perpajakan dan sebagai sarana wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.</li>
</ul>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Struktur NOP</strong></p>
<p>Struktur NOP terdiri dari 18 (delapan belas) digit, dengan rincian sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>digit ke-1 dan ke-2 merupakan kode provinsi;</li>
<li>digit ke-3 dan ke-4 merupakan kode kabupaten/kota;</li>
<li>digit ke-5 sampai dengan digit ke-7 merupakan kode kecamatan;</li>
<li>digit ke-8 sampai dengan digit ke-10 merupakan kode kelurahan/desa;</li>
<li>digit ke-11 sampai dengan digit ke-13 merupakan kode nomor urut blok;</li>
<li>digit ke-14 sampai dengan digit ke-17 merupakan kode nomor urut objek pajak;</li>
<li>digit ke-18 merupakan kode tanda khusus.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/nomor-objek-pajak-pajak-bumi-dan-bangunan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tarif PBB Turun Jadi 0,3 Persen</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/tarif-pbb-turun-jadi-03-persen.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/tarif-pbb-turun-jadi-03-persen.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 01:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>
		<category><![CDATA[PBB]]></category>
		<category><![CDATA[Tarif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2820</guid>
		<description><![CDATA[Tarif Pajak Bumi dan Bangunan untuk Perdesaan dan Perkotaan diturunkan dari 0,5 persen terhadap nilai jual obyek pajak menjadi paling tinggi 0,3 persen dari NJOP. Langkah ini diharapkan dapat memperluas basis pemungutan PBB. Kewenangan penetapan tarif PBB akan dialihkan dari pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota setelah 31 Desember 2013. ”Saat ini, basis data PBB mencapai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tarif Pajak Bumi dan Bangunan untuk Perdesaan dan Perkotaan diturunkan dari 0,5 persen terhadap nilai jual obyek pajak menjadi paling tinggi 0,3 persen dari NJOP. Langkah ini diharapkan dapat memperluas basis pemungutan PBB.</p>
<p style="text-align: justify;"><!-- end judul + lead --> <!-- end headline --> <!-- isi berita --></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="article_body"> </span></p>
<p style="text-align: justify;">Kewenangan penetapan tarif PBB akan dialihkan dari pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota setelah 31 Desember 2013.</p>
<p style="text-align: justify;">”Saat ini, basis data PBB mencapai 92 juta obyek pajak. Itu akan kami distribusikan secara bertahap kepada daerah. Namun, daerah harus memiliki perangkat teknologi informasi yang kuat karena mengelola data yang sangat besar itu bukan perkara mudah. Jika teknologinya tidak kuat, bisa ada kesalahan penetapan NJOP,” ungkap Direktur Ekstensifikasi Pajak Direktorat Jenderal Pajak Hartoyo di Jakarta, Jumat (9/10).</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan tarif PBB Perdesaan dan Perkotaan itu ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang selesai diamandemen pada 15 September 2009.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain mengubah besaran tarifnya, UU ini juga menetapkan aturan baru tentang Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) dan Nilai Jual Obyek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya, NJKP ditetapkan 20-100 persen dari NJOP yang sudah dikurangi NJOPTKP, kini aturan tersebut tidak dipergunakan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bayar PBB makin ringan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, besaran NJOPTKP juga diubah dari sebelumnya ditetapkan setinggi-tingginya Rp 12 juta, kini paling rendah Rp 10 juta per obyek pajak.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, pemerintah kabupaten dan kota diberi kewenangan untuk menetapkan tarif NJOPTKP tanpa batasan. Semakin tinggi NJOPTKP, akan semakin ringan pembayaran PBB yang harus ditanggung masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, semakin tinggi NJOPTKP, akan semakin tinggi insentif yang diberikan pemerintah kabupaten dan kota kepada dunia usaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai ilustrasi, jika seorang warga memiliki tanah seluas 800 meter persegi dengan harga jual Rp 300.000 per meter persegi, NJOP-nya mencapai Rp 240 juta.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dia juga memiliki rumah seluas 400 meter persegi, taman (200 meter persegi), dan pagar setinggi 1,5 meter dan panjang 120 meter dengan nilai jual masing-masing Rp 350.000, Rp 50.000, dan 175.000 per meter persegi, sehingga NJOP-nya adalah Rp 181,5 juta.</p>
<p style="text-align: justify;">NJOP rumah, taman, dan pagar harus dikurangi NJOPTKP terlebih dahulu, katakan tarifnya Rp 10 juta, sehingga nilai jual bangunan kena pajak hanya Rp 171,5 juta.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, total nilai jual obyek pajak kena pajak baik tanah, rumah, taman, dan pagar mencapai Rp 411,5 juta. Angka inilah yang dikalikan dengan tarif PBB-nya, misalnya ditetapkan 0,2 persen, sehingga PBB yang harus dibayar adalah Rp 823.000.</p>
<p style="text-align: justify;">”Pemeriksaan atas wajib pajak PBB yang bermasalah bisa dilakukan pemda bersama Ditjen Pajak. Adapun pembukuan PBB Perdesaan dan Perkotaan bisa dilakukan di daerah dan Ditjen Pajak. Daerah harus memiliki tim penilai aset yang kuat untuk menetapkan besaran NJOP-nya,” ujar Hartoyo.</p>
<p style="text-align: justify;">Anggota DPR sekaligus anggota Panitia Khusus RUU PDRD, Nursanita Nasution, mengatakan, PBB dialihkan kepada pemerintah kabupaten dan kota dalam waktu lima tahun terhitung sejak UU PDRD disahkan karena daerah sendiri membutuhkan persiapan untuk menanggung kewenangan baru itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: www.kompas.com</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/tarif-pbb-turun-jadi-03-persen.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/tata-cara-pengurangan-pajak-bumi-dan-bangunan.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/tata-cara-pengurangan-pajak-bumi-dan-bangunan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 15:59:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>
		<category><![CDATA[Pengurangan PBB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2729</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai peraturan pelaksanaan dari  Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan maka telah dikeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Permohonan Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan, yaitu dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER &#8211; 46/PJ/2009, yang terbit tanggal 24 Agustus 2009. Cara Pengajuan Pengurangan PBB [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebagai peraturan pelaksanaan dari  <a href="http://www.klinik-pajak.com/pengurangan-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.html">Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan</a> maka telah dikeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Permohonan Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan, yaitu dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER &#8211; 46/PJ/2009, yang terbit tanggal 24 Agustus 2009.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Cara Pengajuan Pengurangan PBB<br />
 </strong></p>
<p>Pengurangan dapat diberikan berdasarkan permohonan Wajib Pajak yang dapat diajukan secara :</p>
<ol>
<li>perseorangan, untuk PBB yang terutang yang tercantum dalam SKP PBB; atau </li>
<li>perseorangan atau kolektif, untuk PBB yang terutang yang tercantum dalam SPPT. </li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Dokumen Pendukung Permohonan Pengurangan PBB </strong></p>
<p>Dokumen pendukung untuk permohonan Wajib Pajak yang diajukan secara perseorangan, dalam hal :</p>
<ol>
<li>objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi veteran pejuang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya, atau janda/dudanya dapat berupa :
<ol>
<li>fotokopi Kartu Tanda Anggota Veteran, atau fotokopi Surat Keputusan tentang Pengakuan, Pengesahan, dan Penganugerahan Gelar Kehormatan dari pejabat yang berwenang; </li>
<li>fotokopi bukti pelunasan PBB Tahun Pajak sebelumnya; dan/atau </li>
<li>dokumen pendukung lainnya. </li>
</ol>
</li>
<li>objek pajak berupa lahan pertanian/perkebunan/perikanan/peternakan yang hasilnya sangat terbatas yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang berpenghasilan rendah dapat berupa :
<ol>
<li>surat pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa :
<ul>
<li> hasil pertanian, perkebunan, perikanan, atau peternakan sangat terbatas; dan </li>
<li>penghasilan Wajib Pajak rendah </li>
</ul>
</li>
<li>fotokopi Kartu Keluarga; </li>
<li>fotokopi rekening tagihan listrik, air, dan/atau telepon; </li>
<li>fotokopi bukti pelunasan PBB Tahun Pajak sebelumnya; dan/atau </li>
<li>dokumen pendukung lainnya.</li>
</ol>
</li>
<li>objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang penghasilannya semata-mata berasal dari pensiunan, sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi dapat berupa:
<ol>
<li>fotokopi surat keputusan pensiun; </li>
<li>fotokopi slip pensiunan atau dokumen sejenis lainnya; </li>
<li>fotokopi Kartu Keluarga; </li>
<li>fotokopi rekening tagihan listrik, air, dan/atau telepon; </li>
<li>fotokopi bukti pelunasan PBB Tahun Pajak sebelumnya; dan/atau </li>
<li>dokumen pendukung lainnya. </li>
</ol>
</li>
<li>objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang berpenghasilan rendah, sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi dapat berupa :
<ol>
<li>surat pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa penghasilan Wajib Pajak rendah; </li>
<li>fotokopi Kartu Keluarga; </li>
<li>fotokopi rekening tagihan listrik, air, dan/atau telepon; </li>
<li>fotokopi bukti pelunasan PBB Tahun Pajak sebelumnya; dan/atau </li>
<li>dokumen pendukung lainnya. </li>
</ol>
</li>
<li style="text-align: justify;">objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang berpenghasilan rendah yang Nilai Jual Objek Pajak per meter perseginya meningkat akibat perubahan lingkungan dan dampak positif pembangunan dapat berupa :
<ol>
<li style="text-align: justify;">surat pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa penghasilan Wajib Pajak rendah; </li>
<li style="text-align: justify;">fotokopi SPPT tahun sebelumnya; </li>
<li style="text-align: justify;">fotokopi Kartu Keluarga; </li>
<li style="text-align: justify;">fotokopi rekening tagihan listrik, air, dan/atau telepon; </li>
<li style="text-align: justify;">fotokopi bukti pelunasan PBB Tahun Pajak sebelumnya; dan/atau </li>
<li style="text-align: justify;">dokumen pendukung lainnya. </li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Dokumen pendukung untuk Wajib Pajak badan yang mengalami kerugian dan kesulitan likuiditas pada Tahun Pajak sebelumnya sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban rutin perusahaannya, dapat berupa :</p>
<ol>
<li>fotokopi laporan keuangan tahun sebelumnya; </li>
<li>fotokopi SPT Tahunan PPh Tahun Pajak sebelumnya; </li>
<li>fotokopi bukti pelunasan PBB Tahun Pajak sebelumnya; dan/atau </li>
<li>dokumen pendukung lainnya. </li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dokumen pendukung  untuk permohonan Wajib Pajak yang diajukan secara perseorangan dalam hal objek pajaknya terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa, dapat berupa :</p>
<ol>
<li>surat pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan objek pajaknya terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa; </li>
<li>surat keterangan yang mendukung alasan permohonan dari Kepala Desa/Lurah setempat atau instansi terkait; dan/atau </li>
<li>dokumen pendukung lainnya. </li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dokumen pendukung untuk permohonan Wajib Pajak yang diajukan secara kolektif oleh pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) atau organisasi terkait lainnya dapat berupa :</p>
<ol>
<li>fotokopi Kartu Tanda Anggota Veteran tiap-tiap Wajib Pajak; </li>
<li>fotokopi bukti pelunasan PBB tiap-tiap Wajib Pajak Tahun Pajak sebelumnya; dan/atau </li>
<li>dokumen pendukung lainnya. </li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dokumen pendukung untuk permohonan Wajib Pajak yang diajukan secara kolektif oleh Kepala Dea/Lurah dapat berupa :</p>
<ol>
<li>surat keterangan yang mendukung alasan permohonan dari Kepala Desa/Lurah setempat atau instansi terkait; </li>
<li>fotokopi bukti pelunasan PBB tiap-tiap Wajib Pajak Tahun Pajak sebelumnya; dan/atau </li>
<li>dokumen pendukung lainnya. </li>
</ol>
<p> <!-- Begin BlogToplist tracker code --><br />
 <a title="Finance" href="http://www.blogtoplist.com/personal-finance/"><br />
 <img src="http://www.blogtoplist.com/tracker.php?u=103633" border="0" alt="Finance" /></a><br />
 <!-- End BlogToplist tracker code --><br />
 <a title="Finance blogs" href="http://www.topblogarea.com/finance/"><img src="http://www.topblogarea.com/tracker.php?do=in&amp;id=106084" border="0" alt="Finance blogs" /></a><br />
 <a href="http://topofblogs.com/business_finances"><img src="http://stats.topofblogs.com/send/28356" border="0" alt="TopOfBlogs" /></a><br />
 <a title="Indonesian Blogger" href="http://fatihsyuhud.com/" target="_blank"><img src="http://sites.google.com/site/fatihsyuhud/Home/blog-indonesia.gif" border="0" alt="Indonesian Blogger" /></a><br />
 <a href="http://technorati.com/faves?sub=addfavbtn&amp;add=http://www.klinik-pajak.com"><img src="http://static.technorati.com/pix/fave/btn-fave2.png" alt="Add to Technorati Favorites" /></a><br />
 <!-- BackLink by Counters 4 U --><br />
 <a href="http://www.counters4u.com" target="_blank"><img title="BackLink by Counters 4 U" src="http://www.counters4u.com/backlink.php?aut=EF60387089C968920487F89D5739455201155A64B924A54A750E6D8DD2AD0BC1854A7AD421A02FC8C1" border="0" alt="" /><img src="http://www.counters4u.com/sr.php" border="0" alt="" width="1" height="1" /></a><br />
 <!-- BackLink by Counters 4 U--><br />
 <a href="http://www.kampungblog.com"><img src="http://www.kampungblog.com/button.php?u=ruditrg" border="0" alt="KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia" /></a><br />
 <a href="http://djp.web.id"><img src="http://djp.web.id/upload/banner/125.jpg" alt="DJP Blogger Community" /></a><br />
 <!-- Begin BlogToplist voting code --><br />
 <a href="http://www.blogtoplist.com/vote.php?u=103633" target="_blank"><br />
 <img src="http://www.blogtoplist.com/images/votebutton.gif" border="0" alt="Top Blogs" /></a><br />
 <!-- End BlogToplist voting code --><br />
 <a href="http://blog-indonesia.com"><img src="http://blog-indonesia.com/image/badge_red.gif" border="0" alt="blog-indonesia.com" /></a><br />
 <a href="http://www.millionrss.com"><img src="http://www.millionrss.com/images/w3cmillionrss.png" border="0" alt="On our way to 1,000,000 rss feeds - millionrss.com" width="80" height="15" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/tata-cara-pengurangan-pajak-bumi-dan-bangunan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/pengurangan-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/pengurangan-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 07:09:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>
		<category><![CDATA[Pengurangan PBB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2676</guid>
		<description><![CDATA[Menteri Keuangan telah mengeluarkan aturan terbaru tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yaitu dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan, tertanggal 17 Juni 2009,  berikut ini akan dibahas hal -hal yang diatur oleh Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009. Subjek Pengurangan PBB Pengurangan dapat diberikan kepada Wajib Pajak: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menteri Keuangan telah mengeluarkan aturan terbaru tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yaitu dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan, tertanggal 17 Juni 2009,  berikut ini akan dibahas hal -hal yang diatur oleh Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009.</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Subjek Pengurangan PBB</strong></p>
<p>Pengurangan dapat diberikan kepada Wajib Pajak:</p>
<ol>
<li> karena kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak dan/atau karena sebab-sebab tertentu lainnya; </li>
<li> dalam hal objek pajak terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak dan/ atau karena sebab-sebab tertentu lainnya sebagaimana dimaksud pada angka 1 untuk:</p>
<ul>
<li>Wajib Pajak Orang Pribadi:</li>
</ul>
<blockquote><ol>
<li style="text-align: justify;"> objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi veteran pejuang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya, atau janda/ dudanya;</li>
<li style="text-align: justify;"> objek pajak berupa lahan pertanian/ perkebunan/ perikanan/ peternakan yang hasilnya sangat terbatas yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang berpenghasilan rendah;</li>
<li style="text-align: justify;">objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang penghasilannya semata-mata berasal dari pensiunan, sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi;</li>
<li style="text-align: justify;"> objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang berpenghasilan rendah, sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi; dan/ atau</li>
<li style="text-align: justify;"> objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang berpenghasilan rendah yang Nilai Jual Objek Pajak per meter perseginya meningkat akibat perubahan lingkungan dan dampak positif pembangunan;</li>
</ol>
</blockquote>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Wajib Pajak Badan meliputi objek pajak yang Wajib Pajak-nya adalah Wajib Pajak badan yang mengalami kerugian dan kesulitan likuiditas pada Tahun Pajak sebelumnya sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban rutin.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Bencana alam  adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab lain yang luar biasa meliputi kebakaran, wabah penyakit tanaman, dan/ atau wabah hama tanaman</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Besarnya Pengurangan PBB</strong></p>
<p>Pengurangan dapat diberikan:</p>
<ol>
<li> sebesar 75% (tujuh puluh lima persen) dari PBB yang terutang dalam hal kondisi tertentu objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi veteran pejuang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya, atau janda/ dudanya ;</li>
<li> sebesar paling tinggi 75% (tujuh puluh lima persen) dari PBB yang terutang dalam hal kondisi tertentu Wajib Pajak orang pribadi dengan :
<ol> </ol>
<ol> </ol>
<ul>
<li style="text-align: justify;"> objek pajak berupa lahan pertanian/ perkebunan/ perikanan/ peternakan yang hasilnya sangat terbatas yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang berpenghasilan rendah;</li>
<li style="text-align: justify;">objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang penghasilannya semata-mata berasal dari pensiunan, sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi;</li>
<li style="text-align: justify;"> objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang berpenghasilan rendah, sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi; dan/ atau</li>
<li style="text-align: justify;">objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi yang berpenghasilan rendah yang Nilai Jual Objek Pajak per meter perseginya meningkat akibat perubahan lingkungan dan dampak positif pembangunan; dan/ atau</li>
<li style="text-align: justify;">Wajib Pajak Badan meliputi objek pajak yang Wajib Pajak-nya adalah Wajib Pajak badan yang mengalami kerugian dan kesulitan likuiditas pada Tahun Pajak sebelumnya sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban rutin.</li>
</ul>
</li>
<li> sebesar paling tinggi 100% (seratus persen) dari PBB yang terutang dalam hal objek pajak terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa.</li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Permohonan Pengurangan PBB</strong></p>
<p>Permohonan Pengurangan Wajib Pajak dapat diajukan secara:</p>
<ol>
<li> perseorangan, untuk PBB yang terutang yang tercantum dalam SKP PBB; atau</li>
<li>perseorangan atau kolektif, untuk PBB yang terutang yang tercantum dalam SPPT.</li>
</ol>
<p>Permohonan Pengurangan secara kolektif  dapat diajukan:</p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"> sebelum SPPT diterbitkan dalam hal kondisi tertentu objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi veteran pejuang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya, atau janda/ dudanya  dengan PBB yang terutang paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah); atau </li>
<li style="text-align: justify;"> setelah SPPT diterbitkan dalam hal:</li>
</ul>
<blockquote><ol>
<li style="text-align: justify;">kondisi tertentu objek pajak yang Wajib Pajak-nya orang pribadi veteran pejuang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya, atau janda/ dudanya dengan PBB yang terutang paling banyak Rp500.000.000,00  (lima ratus juta rupiah);</li>
<li style="text-align: justify;">kondisi tertentu lainnya Wajib Pajak Orang Pribadi dengan PBB yang terutang paling banyak Rp200.000,00 (dua ratus ribu rupiah); atau</li>
<li style="text-align: justify;">objek pajak sehubungan dengan Bencana alam dan Sebab lain yang luar biasa dengan PBB yang terutang paling banyak Rp500.000.000,00  (lima ratus juta rupiah).</li>
</ol>
</blockquote>
<ul>
</ul>
<ul>
</ul>
<ul>
</ul>
<ol> </ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Persyaratan Mengajukan Permohonan</strong></p>
<p>Permohonan Pengurangan yang diajukan secara perseorangan  harus memenuhi persyaratan:</p>
<ol>
<li> 1 (satu) permohonan untuk 1 (satu) SPPT atau SKP PBB;</li>
<li>diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan mencantumkan besarnya persentase Pengurangan yang dimohon disertai alasan yang jelas,</li>
<li>diajukan kepada Kepala KPP Pratama;</li>
<li>dilampiri fotokopi SPPT atau SKP PBB yang dimohonkan Pengurangan;</li>
<li> surat permohonan ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal Surat permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak berlaku ketentuan sebagai berikut:
<ul>
<li> surat permohonan harus dilampiri dengan Surat  Kuasa Khusus, untuk:
<ol>
<li>Wajib Pajak Badan; atau</li>
<li>Wajib Pajak orang pribadi dengan PBB yang terutang lebih banyak dari Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah);</li>
</ol>
</li>
</ul>
<ul>
<li> Surat permohonan harus dilampiri dengan surat kuasa, untuk Wajib Pajak orang pribadi dengan PBB yang terutang paling banyak Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah);</li>
</ul>
</li>
<li style="text-align: justify;">diajukan dalam jangka waktu:
<ul>
<li> 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya SPPT;</li>
<li> 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya SKP PBB;</li>
<li> 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya Surat Keputusan Keberatan PBB;</li>
<li> 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal terjadinya bencana alam; atau</li>
<li> 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal terjadinya sebab lain yang luar biasa,</li>
</ul>
<p>kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa dalam jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya;</p>
</li>
<li style="text-align: justify;"> tidak memiliki tunggakan PBB Tahun Pajak sebelumnya atas objek pajak yang dimohonkan Pengurangan, kecuali dalam hal objek pajak terkena bencana alam atau sebab  lain yang luar biasa; dan</li>
<li style="text-align: justify;"> tidak diajukan keberatan atas SPPT atau SKP PBB yang dimohonkan Pengurangan, atau dalam hal diajukan keberatan telah diterbitkan Surat Keputusan Keberatan dan atas Surat Keputusan Keberatan dimaksud tidak diajukan Banding.</li>
</ol>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/pengurangan-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penentuan Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak BPHTB</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/penentuan-besarnya-nilai-perolehan-objek-pajak-tidak-kena-pajak-bphtb.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/penentuan-besarnya-nilai-perolehan-objek-pajak-tidak-kena-pajak-bphtb.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 13:34:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>
		<category><![CDATA[Waris]]></category>
		<category><![CDATA[Wasiat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2244</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka penentuan Penentuan Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan, Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2009  Tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 516/KMK.04/2000 Tentang Tata Cara Penentuan Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam rangka penentuan Penentuan Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan, Menteri Keuangan telah mengeluarkan<!--[if gte mso 9]><xml> <w :WordDocument> </w><w :View>Normal</w> <w :Zoom>0</w> <w :PunctuationKerning /> <w :ValidateAgainstSchemas /> <w :SaveIfXMLInvalid>false</w> <w :IgnoreMixedContent>false</w> <w :AlwaysShowPlaceholderText>false</w> <w :Compatibility> <w :BreakWrappedTables /> <w :SnapToGridInCell /> <w :WrapTextWithPunct /> <w :UseAsianBreakRules /> <w :DontGrowAutofit /> </w> <w :BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w :LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w> </xml>< ![endif]--> Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2009  Tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 516/KMK.04/2000 Tentang Tata Cara Penentuan Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.</p>
<p>Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan, menetapkan besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak secara regional dengan ketentuan :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li> untuk perolehan hak karena waris, atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, ditetapkan paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah); </li>
<li>untuk perolehan hak Rumah Sederhana Sehat (RSH) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 03/PERMEN/M/2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR Bersubsidi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 07/PERMEN/M/2008, dan Rumah Susun Sederhana sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 7/PERMEN/M/2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR Sarusun Bersubsidi, ditetapkan sebesar Rp 55.000.000,00 (lima puluh lima juta rupiah); </li>
<li>untuk perolehan hak baru melalui program pemerintah yang diterima pelaku usaha kecil atau mikro dalam rangka Program Peningkatan Sertifikasi Tanah untuk Memperkuat Penjaminan Kredit bagi Usaha Mikro dan Kecil, ditetapkan sebesar Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah); </li>
<li>untuk perolehan hak selain perolehan hak sebagaimana dimaksud pada nomor 1, normor 2, dan nomor 3, ditetapkan paling banyak Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah); </li>
<li>dalam hal Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada angka 4 lebih besar daripada Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada angka 2 maka Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak untuk perolehan hak sebagaimana dimaksud pada angka 2 ditetapkan sama dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana ditetapkan pada angka 4; </li>
<li>dalam hal Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada angka 4 lebih besar daripada Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada angka 3 maka Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak untuk perolehan hak sebagaimana dimaksud pada angka 3 ditetapkan sama dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana ditetapkan pada angka 4.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/penentuan-besarnya-nilai-perolehan-objek-pajak-tidak-kena-pajak-bphtb.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Keterangan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/surat-keterangan-nilai-jual-objek-pajak-njop.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/surat-keterangan-nilai-jual-objek-pajak-njop.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 04:28:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>
		<category><![CDATA[NJOP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2062</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini banyak pemilik tanah/bangunan kesulitan untuk mengetahui besarnya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang diperlukan untuk berbagai hal misalnya untuk menentukan dasar pengenaan untuk BPHTB dan PPh Pengalihan Tanah/Bangunan dalam hal tanah/bangunan yang dimiliki akan dijual.  Bagi Wajib Pajak yang ingin mengetahui Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) atas tanah/bangunan yang dimilikinya dapat mengajukan Permohonan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selama ini banyak pemilik tanah/bangunan kesulitan untuk mengetahui besarnya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang diperlukan untuk berbagai hal misalnya untuk menentukan dasar pengenaan untuk BPHTB dan PPh Pengalihan Tanah/Bangunan dalam hal tanah/bangunan yang dimiliki akan dijual.  Bagi Wajib Pajak yang ingin mengetahui Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) atas tanah/bangunan yang dimilikinya dapat mengajukan Permohonan Surat Keterangan NJOP ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama. Hal tersebut diatur dalam SE-9/PJ/2009 Tentang Penegasan Penerbitan Surat Keterangan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Surat Keterangan NJOP</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Surat Keterangan NJOP adalah surat yang diterbitkan Kepala KPP Pratama berdasarkan permohonan tertulis subjek pajak wajib Pajak atau kuasanya yang menerangkan besarnya NJOP atas objek PBB tertentu untuk:<br />
 a. objek PBB selain Fasilitas Umum sebelum cetak masal SPPT;<br />
 b. objek PBB Fasilitas Umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Surat Keterangan NJOP diterbitkan untuk tujuan penghitungan Bea Perolehan atas Tanah dan Bangunan dan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah danlatau Bangunan.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Permohonan dan Penanganan Permohonan Surat Keterangan NJOP</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Permohonan diajukan kepada Kepala KPP Pratama:</p>
<ol> </ol>
<ul>
<li>untuk objek PBB yang telah terdaftar dan bukan Fasilitas Umum dilengkapi dengan fotokopi SPPT tahun sebelumnya;</li>
<li> untuk objek PBB yang belum terdaftar dan bukan Fasilitas Umum dilengkapi dengan:
<ul>
<li> SPOP yang telah diisi dengan jelas, benar, dan lengkap serta ditandatangani;</li>
<li>fotokopi salah satu identitas subjek pajak;</li>
<li>fotokopi salah satu bukti surat tanah;</li>
<li>fotokopi salah satu bukti surat bangunan;</li>
<li>fotokopi NPWP, atau surat pernyataan tidak mempunyai NPWP. </li>
</ul>
</li>
<li>untuk objek PBB yang telah terdaftar dan merupakan Fasilitas Umum dilengkapi dengan fotokopi bukti kepemilikan atau penguasaan atas tanah dan/atau bangunan;</li>
<li>dalam hal diajukan oleh kuasa Wajib Pajak dilengkapi dengan surat kuasa.</li>
</ul>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Standar waktu pelayanan penerbitan Surat Keterangan NJOP</strong></p>
<p>Standar waktu pelayanan penerbitan Surat Keterangan NJOP:</p>
<ul>
<li>untuk objek PBB yang telah terdaftar adalah 1 (satu) hari kerja sejak berkas permohonan diterima secara lengkap;</li>
<li>untuk objek PBB yang belum terdaftar  adalah:</li>
</ul>
<blockquote><ol>
<li>tiga hari kerja sejak berkas permohonan diterima secara lengkap, dalam hal tidak diperlukan penelitan lapangan;</li>
<li>delapan hari kerja sejak berkas permohonan diterima secara lengkap, dalam hal diperlukan penelitan lapangan.</li>
</ol>
</blockquote>
<p><strong>Bentuk Formulir</strong></p>
<ol>
<li>Contoh surat permohonan Surat Keterangan NJOP sebagaimana pada Lampiran 1 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.</li>
<li>Bentuk format Surat Keterangan NJOP adalah sebagaimana pada Lampiran 2 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini yang dicetak melalui aplikasi SISMIOP.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/surat-keterangan-nilai-jual-objek-pajak-njop.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMS Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/sms-pbb.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/sms-pbb.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 10:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=2320</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Wajib Pajak yang ingin mengetahui informasi mengenai PBB atas tanah dan/atau bangunan miliknya dapat dilakukan melalui Handphone: Ketik:   PBB(spasi)nomor objek pajak(spasi)tahun pajak Contoh: PBB 31.74.021.002.012-0371.0 2008 Kirim ke 081317872525.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://www.klinik-pajak.com/wp-content/uploads/smspbb.jpg" alt="" width="120" height="50" /><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p>Bagi Wajib Pajak yang ingin mengetahui informasi mengenai PBB atas tanah dan/atau bangunan miliknya dapat dilakukan melalui Handphone:</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><strong>Ketik:   PBB(spasi)nomor objek pajak(spasi)tahun pajak</strong></p>
<p><strong>Contoh: PBB 31.74.021.002.012-0371.0 2008<br />
 </strong></p>
<p><strong> Kirim ke 081317872525.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/sms-pbb.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Memiliki NPWP dalam Rangka Penjualan Tanah dan Bangunan</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/kewajiban-memiliki-npwp-dalam-rangka-penjualan-tanah-dan-bangunan.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/kewajiban-memiliki-npwp-dalam-rangka-penjualan-tanah-dan-bangunan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 05:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[KUP]]></category>
		<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>
		<category><![CDATA[PPh Final]]></category>
		<category><![CDATA[NPWP]]></category>
		<category><![CDATA[Penjualan Tanah dan Bangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Anda yang berencana menjual atau membeli tanah dan bangunan (rumah) dalam waktu dekat segeralah mengurus NPWP bagi yang belum memilikinya, karena Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan PER-35/PJ.2008 tanggal 9 September 2008 tentang Kewajiban Pemilikan NPWP dalam Rangka Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. Hal-hal yang diatur dalam PER-35/PJ.2008 tersebut adalah sebagai berikut: Atas pembayaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;" lang="SV">Bagi Anda yang berencana menjual atau  membeli tanah dan bangunan (rumah) dalam waktu dekat segeralah mengurus NPWP  bagi yang belum memilikinya, karena Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan  PER-35/PJ.2008 tanggal 9 September 2008 tentang Kewajiban Pemilikan NPWP dalam  Rangka Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.</span><span lang="SV"></span><span style="font-size: small;" lang="SV"><span id="more-678"></span></span><span lang="SV"></span><span style="font-size: medium;" lang="SV"></span><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;" lang="SV">Hal-hal  yang diatur dalam PER-35/PJ.2008 tersebut adalah sebagai berikut:</span><span lang="SV"></span></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;">Atas  	pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB) dengan  	menggunakan SSB wajib dicantumkan NPWP yang dimilki Wajib Pajak yang  	bersangkutan, kecuali atas pembayaran BPHTB dengan NJOP kurang dari Rp  	60.000.000</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;">Atas  	pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) dengan menggunakan SSP atas penghasilan  	dari pengalihan tanah dan atau bangunan, wajib dicantumkan NPWP Wajib Pajak  	yang dimilki Wajib Pajak yang bersangkutan , kecuali PPh yang dibayar kurang  	dari Rp 3.000.000</span></li>
</ul>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi mulai tanggal 9 September 2008 setiap orang  yang menjual atau membeli  tanah dan/atau bangunan harus memiliki NPWP</p>
<p><br class="spacer_" /></p>
<p><br class="spacer_" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/kewajiban-memiliki-npwp-dalam-rangka-penjualan-tanah-dan-bangunan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bentuk Dan Isi Formulir SPPT PBB 2009</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/bentuk-dan-isi-formulir-surat-pemberitahuan-pajak-terhutang-pajak-bumi-dan-bangunan-sppt-pbb.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/bentuk-dan-isi-formulir-surat-pemberitahuan-pajak-terhutang-pajak-bumi-dan-bangunan-sppt-pbb.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 08:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>
		<category><![CDATA[Formulir]]></category>
		<category><![CDATA[PBB]]></category>
		<category><![CDATA[SPPT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[Dirjen Pajak pada tanggal 2 September 2008 telah mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak mengatur tentang&#160; Bentuk Dan Isi Formulir Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi Dan Bangunan (SPPT PBB)&#160; dengan Nomor PER- 34/PJ/2008 &#160;yang mulai berlaku 1 Januari 2009. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang yang selanjutnya disebut dengan SPPT adalah surat yang digunakan oleh Direktorat Jenderal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Dirjen Pajak pada tanggal 2 September 2008 telah mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak mengatur tentang&nbsp; Bentuk Dan Isi Formulir Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi Dan Bangunan (SPPT PBB)&nbsp; dengan Nomor PER- 34/PJ/2008 &nbsp;yang mulai berlaku 1 Januari 2009.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span>Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang yang selanjutnya disebut dengan SPPT adalah surat yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya Pajak Bumi dan Bangunan terhutang kepada Wajib Pajak. SPPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan formulir kertas.</span></p>
<div><span id="more-633"></span>&nbsp;<!--more--></div>
<p><span>Formulir SPPT berisi informasi sebagai berikut:</span></p>
<div>&nbsp;</div>
<div>a. <span>&nbsp;&nbsp;</span>Halaman depan:</div>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>1) Nomor seri formulir;</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>2) Nama Kantor Wilayah DJP dan Kantor Pelayanan Pajak;</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;">3) lnformasi berupa tulisan &quot;SPPT PBB bukan merupakan bukti kepemilikan hak;</p>
<p style="margin-left: 18pt;">4) Kode Akun;</p>
<div style="margin-left: 18pt;">5) Tahun Pajak dan jenis sektor PBB;</div>
<div style="margin-left: 18pt;">6) Nomor Objek Pajak (NOP);</div>
<div style="margin-left: 18pt;">7) Letak objek pajak;</div>
<div style="margin-left: 18pt;"> <img src='http://www.klinik-pajak.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Nama dan alamat Wajib Pajak;</div>
<div style="margin-left: 18pt;">9) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);</div>
<div style="margin-left: 18pt;">10) Luas bumi danlatau bangunan;</div>
<div style="margin-left: 18pt;">11) Kelas bumi danlatau bangunan;</div>
<p style="margin-left: 18pt;">12) Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) per m2 bumi danlatau bangunan;</p>
<div style="margin-left: 18pt;">13) Total NJOP bumi danlatau bangunan;</div>
<div style="margin-left: 18pt;">14) NJOP sebagai dasar pengenaan PBB;</div>
<p style="margin-left: 18pt;">15) Nilai Jual <span>Objek </span>Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP);</p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>16) N JOP untuk penghitungan PBB;</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>17) Nilai Jual Kena Pajak {NJKP);</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>18) PBB yang terhutang;</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>19) PBB yang harus dibayar;</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>20) Tanggal jatuh tempo;</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>21 ) Tempat Pembayaran;</span></p>
<div style="margin-left: 18pt;">&nbsp;</div>
<div>b. <span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;Halaman belakang:</span></div>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>1) Nama petugas penyampai SPPT;</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>2) Tanggal penyampaian;</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>3) Tanda tangan petugas;</span></p>
<p style="margin-left: 18pt;"><span>4) lnformasi Iainnya.</span></p>
<div style="margin-left: 18pt;">&nbsp;&nbsp;</div>
<p><span>Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari</span> 2009.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://www.klinik-pajak.com//wp-content/uploads/SPPT_PBB_Baru3.JPG" alt="" /></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/bentuk-dan-isi-formulir-surat-pemberitahuan-pajak-terhutang-pajak-bumi-dan-bangunan-sppt-pbb.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batas Waktu Penerbitan SPPT, SKP, dan STP, serta Daluwarsa Penagihan PBB</title>
		<link>http://www.klinik-pajak.com/batas-waktu-penerbitan-sppt-terutang-skp-pbb-dan-stp-pbb-serta-daluwarsa-penagihan-pbb.html</link>
		<comments>http://www.klinik-pajak.com/batas-waktu-penerbitan-sppt-terutang-skp-pbb-dan-stp-pbb-serta-daluwarsa-penagihan-pbb.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 05:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PBB & BPHB]]></category>
		<category><![CDATA[PBB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinik-pajak.com/?p=626</guid>
		<description><![CDATA[Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan mengenai batas waktu penerbitan ketetapan dan penagihan PBB berkaitan dengan telah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, maka untuk memberikan penegasan atas pertanyaan tersebut maka Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor SE-48/PJ/2008 tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan mengenai batas waktu penerbitan ketetapan  dan penagihan PBB berkaitan dengan telah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 28  Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983  tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, maka untuk memberikan penegasan  atas pertanyaan tersebut maka Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan Surat  Edaran Nomor SE-48/PJ/2008 tentang Batas Waktu Penerbitan Surat Pemberitahuan  Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Pajak Bumi Dan Bangunan, dan Surat Tagihan  Pajak Pajak Bumi Dan Bangunan, Serta Daluwarsa Penagihan Pajak Bumi Dan Bangunan  yang dikeluarkan tanggal 5 September 2008. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;"><span id="more-626"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;"><!--more--></span></span></p>
<p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">Berdasarkan SE-48/PJ/2008 tersebut di atas,ditegaskan bahwa:</span></span></p>
<p style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">a.   batas  waktu penerbitan ketetapan PBB (Surat Pernberitahuan Pajak Terntang, Surat<br />
 Ketetapan Pajak PBB, Surat Tagihan Pajak PBB):</span></span></p>
<p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">1.   mengacu  pada ketentuan Pasal 13 dan Pasal 15 Undang-Undang KUP Tahun<br />
 2007, untuk Tahun Pajak 2008 dan Tahun Pajak-Tahun Pajak berikutnya,<br />
 ketetapan PBB diterbitkan paling lama 5 (lima) tahun sejak berakhirnya Tahun<br />
 Pajak;</span></span></p>
<p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">2.   mengacu  pada ketentuan Pasal 13 dan Pasal 15 Undang-Undang KUP Tahun<br />
 2000 dan Pasal H angka 2 Undang-Undang KUP Tahun 2007:</span></span></p>
<p style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">a)   untuk Tahun Pajak 2003  sampai dengan Tahun Pajak 2007, ketetapan PBB<br />
 diterbitkan paling lama pada akhir Tahun Pajak 2013; -</span></span></p>
<p style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">b)   untuk Tahun Pajak 2001  sampai dengan Tahun Pajak 2002, ketetapan PBB<br />
 diterbihn paling lama 10 (sepuluh) hhun sejak berakhirnya Tahun Pajak;</span></span></p>
<p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">3)   mengacu pada ketentuan  Pawl 13 dan Pasal 15 Undang-Undsng KUP Tahun<br />
 1994 dan Pasal 47A Undang-Undang KUP Tahun 2000, untuk Tahun Pajak 1995<br />
 sarmpai dengan Tahun Pajak 2000, ketetapan PBB diterbitkan paling lama 10<br />
 (sepuluh) tahun sejak berakhirnya Tahun Pajak;</span></span></p>
<p style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">b.       walaupun batas waktu penerbitan ketetapan PBB sebagaimana dimaksud dalam<br />
 huruf a telah lewat, surat ketetapan PBB tetap dapat diterbitkan apabiia Wajib<br />
 Pajak setetah batas waktu tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di<br />
 bidang PBB atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada<br />
 pendapatan negara bedasarkan putusan pengadiian yang telah mempunyai kekuatan<br />
 hukum tetap;</span></span></p>
<p style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">c.        daluwarsa penagihan PBB:</span></span></p>
<p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">1)   mengacu pada ketantuan  Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang KUP  Tahun 2007.<br />
 untuk Tahun Pajak 2008 dan Tahun Pajak-Tahun Pajak berikutnya, hak untuk<br />
 melakukan penagihan PBB, termasuk denda admlnstrasi dan biaya penagihan<br />
 PBB, daluarsa setelah melampaui waktu 5 (Iima) tahun terhitung sejak<br />
 penerbitan STP PBB dan tertangguh apabila memenuhi ketentuan Pasal 22 ayat<br />
 (2) Undang-Undang KUP Tahun 2007;</span></span></p>
<p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;">2)  mengacu pada ketentuan  Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang KUP Tahun 2000<br />
 dan Pasal II angka 1 Undang-Undang KUP Tahun 2007, untuk Tahun Pajak 2001<br />
 sampai dengan Tahun Pajak 2007, hak untuk melakukan penagihan PBB,<br />
 termasuk denda administrasi dan biaya penagihan PBB, daluwarsa setelah<br />
 melampaui waktu 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak berakhirnya Tahun Pajak dan  tertangguh apabila memenuhi ketentuan Pasai 22 ayat (2) Undang-Undang KUP Tahun  2000;</span></span></p>
<p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial;"><span lang="SV">3)    mengacu pada ketentuan PasaI 22 ayat (1) Undang-Undang KUP Tahun 1994<br />
 dan Pasal 47A Undang-Undang KUP Tahun 20U0, untuk Tahun Pajak 1995 sampai dengan  Tahun Pajak 2000, hak untuk melakukan penagihan PBB.<br />
 termasuk denda administrasi dan biaya penagihan PBB, daluwarsa setelah<br />
 melampaui waktu 10 (sepuluh) tahun tmhitung sejak berakhirnya Tahun Pajak dan  tertangguh apabila memenuhi ketentuan Pasal 22 ayat (2) Undang-Undang KUP Tahun  1994.</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinik-pajak.com/batas-waktu-penerbitan-sppt-terutang-skp-pbb-dan-stp-pbb-serta-daluwarsa-penagihan-pbb.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
