PPh Pasal 21 atas THR Tahun 2009

Saat ini umat Muslim telah memasuki bulan Ramadhan yang akan diakhiri dengan perayaan Hari Raya Lebaran. Sesuai dengan ketentuan Menteri Tenaga Kerja maka setiap perusahaan wajib memberikan tambahan penghasilan berupa Tunjangan Hari Raya (THR) kepada karyawan. Dengan berlakunya Undang-Undang PPh Nomor 36 tahun 2008 yang mulai berlaku 1 Januari 2009 maka ketentuan mengenai pemotongan PPh Pasal 21 atas THR juga mengalami perubahan. Berikut ini akan dibahas bagaimana perhitungan pemotongan PPh Pasal 21 atas THR sesuai dengan aturan pelaksanaan UU yaitu Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 21/26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi.


Penghitungan PPh Pasal 21 atas THR  bagi Pegawai Tetap

Apabila kepada pegawai tetap diberikan jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus, premi, tunjangan hari raya, dan penghasilan lain semacam itu yang sifatnya tidak tetap dan biasanya dibayarkan sekali setahun, maka PPh Pasal 21 dihitung dan dipotong dengan cara sebagai berikut :

  1. dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan ditambah dengan penghasilan tidak teratur berupa tantiem, jasa produksi, dan sebagainya.
  2. dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan tanpa tantiem, jasa produksi, dan sebagainya.
  3. selisih antara PPh Pasal 21 menurut penghitungan angka 1 dan 2 adalah PPh Pasal 21 atas penghasilan tidak teratur berupa tantiem, jasa produksi, dan sebagainya.


Contoh:

Joko Qurnain (tidak kawin) bekerja pada PT Qolbu Jaya dengan memperoleh gaji sebesar Rp 2.000.000,00 sebulan. Dalam tahun yang bersangkutan Joko menerima THR sebesar Rp 5.000.000,00. Setiap bulannya Joko membayar iuran pensiun ke dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan sebesar Rp 60.000,00

Cara menghitung PPh Pasal 21 atas THR adalah :


a. PPh Pasal 21 atas Gaji dan THR (penghasilan setahun):

Gaji setahun (12 x Rp 2.000.000,00)
THR
Rp     24.000.000,00
Rp       5.000.000,00
Penghasilan bruto setahun Rp     29.000.000,00
Pengurangan :
1.   Biaya Jabatan
5% x Rp 29.000.000,00 =          
2.   Iuran pensiun setahun
12 x Rp 60.000,00 =

Rp  1.450.00,00

Rp    720.000,00

Rp      2.170.000,00

Penghasilan neto setahun Rp     26.830.000,00
PTKP
–   untuk WP sendiri
Rp     15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp     10.990.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp 10.990.000,00 =

Rp    549.500,00




b. PPh Pasal 21 atas Gaji Setahun


Gaji setahun (12x Rp 2.000.000,00) Rp     24.000.000,00
Pengurangan :
1.   Biaya Jabatan
5% x Rp 24.000.000,00=             
2.   Iuran pensiun setahun
12 x Rp 60.000,00=

Rp   1.200.000,00

Rp      720.000,00

Rp       1.920.000,00

Penghasilan neto setahun Rp     22.080.000,00
PTKP
–   untuk WP sendiri
Rp     15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp       6.240.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp 6.240.000,00=

Rp      312.000,00



c. PPh Pasal 21 atas THR



PPh Pasal 21 atas THR adalah :
Rp 549.500,00 – Rp 312.000,00 = Rp 237.500,00

 

Karyawati Ken Prameswari (tidak kawin) bekerja pada PT Prabu Kedaton dengan memperoleh gaji sebesar Rp 2.750.000,00 sebulan. Perusahaan ikut dalam program jamsostek. Premi Jaminan Kecelakaan Kerja dan premi Jaminan Kematian dan Iuran Jaminan Hari Tua dibayar oleh pemberi kerja setiap bulan masing-masing sebesar 1,00%, 0,30% dan 3,70% dari gaji. Prameswari membayar iuran Pensiun Rp 50.000,00 dan iuran Jaminan Hari Tua sebesar 2,00% dari gaji untuk setiap bulan. Dalam tahun berjalan dia juga menerima THR sebesar Rp 4.000.000,00

Cara menghitung PPh Pasal 21 atas THR adalah sebagai berikut :


a. PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus (penghasilan setahun):

Gaji setahun (12 x Rp 2.750.000,00)
THR
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja
12xRp 27.500,00
Premi Jaminan Kematian
12 x Rp 8.250,00
Rp     33.000.000,00



Rp       4.000.000,00

Rp          330.000,00

Rp            99.000,00

Penghasilan bruto setahun Rp      37.429.000,00
Pengurangan :
1.     Biaya Jabatan
5% x Rp 37.429.000,00=          
2.     Iuran pensiun setahun
12 x Rp 50.000,00=                 
3.     Iuran Jaminan Hari Tua             12 x Rp 55.000,00=

Rp   1.871.450,00

Rp      600.000,00


Rp      660.000,00


Rp       3.131.450,00

Penghasilan neto setahun Rp     34.297.550,00
PTKP
–   untuk WP sendiri
Rp     15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak
Dibulatkan
Rp     18.457.550,00
Rp     18.457.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp 18.457.000,00 =

Rp     922.850,00




b. PPh Pasal 21 atas Gaji Setahun


Gaji setahun (12xRp 2.750.000,00)  =
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja 12 x Rp 27.500,00 =
Premi Jaminan Kematian
12 x Rp 8.250,00 =


Rp     33.000.000,00



Rp          330.000,00

Rp            99.000,00

Jumlah Rp      33.429.000,00
Pengurangan :
1.   Biaya Jabatan
5% x Rp 33.429.000,00=         
2.   Iuran pensiun setahun
12 x Rp 50.000,00=                 
3.   Iuran Jaminan Hari Tua
12 x Rp 55.000,00=



Jumlah

Rp     1.671.450,00

Rp        600.000,00


Rp        660.000,00


Rp        2.931.450,00

Penghasilan neto setahun = Rp      30.497.550,00
PTKP
–   untuk WP sendiri
Rp      15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak
Pembulatan
Rp      14.657.550,00
Rp      14.657.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp 14.657.000,00=

Rp        732.850,00




c. PPh Pasal 21 atas THR

PPh Pasal 21 atas Bonus adalah :
Rp 922.850,00 – Rp 732.850,00 = Rp 190.000,00


One Comment to “PPh Pasal 21 atas THR Tahun 2009”

  • rakutta.s says:

    apakah ada uu yang mengatur tentang THR yang berhubungan dengan jumlah perkalian masa kerja.
    alasan ; masa kerja 10 tahun sama THR nya dengan yang 1 Tahun.

  • Leave a Reply for “PPh Pasal 21 atas THR Tahun 2009”

    XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

    Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.